24.6.15

#MONOLOG 5

Allah selalu tahu kapan jiwamu sedang gersang, kapan hati sedang dahaga, dan kapan pikiran sedang membuntu. Namun tak ada yang kurang dari apa yang diberi-Nya, tak juga berlebih takarannya.
Allah selalu tahu setiap inchi kesedihanmu dan Allah pula yang menggembirakan hatimu. 

#MONOLOG 4

Pintu kebenaran memang kadang bisa terbuka dengan kunci kecurigaan. Tapi lebih sering terbuka dengan kunci pemahaman.
Lebih banyaklah memahami, ketimbang mencurigai. 

#MONOLOG 3

Cinta itu ibarat anak panah. Kau tak bisa menariknya terlalu kuat, jika kau tak ingin ia terlepas begitu jauh.
Kalau begitu dibalik saja, lepaslah ia, maka ia akan datang padamu.

#MONOLOG 2

Kita ini barangkali terlalu percaya diri. Rajin menumpuk-numpuk harta, walaupun tak tahu esok hari masih berpijakkah di bumi? Bersedekahlah seperti Yang Maha Memberi Kehidupan telah bersedekah padamu. 

21.6.15

#MONOLOG

Jangan bersedih, negeri ini tidak hanya penuh oleh orang jahat. Namun tidak sedikit pula orang baik jika kau mau tahu. Dan jadilah yang baik itu. 

12.6.15

Mobil Tua



Mobil kami adalah mobil tua yang mesin pendinginnya hanya akan terasa saat pagi hari saja. Menjelang siang ketika di perjalanan pulang, keponakanku terus mengeluh gerah dan kepanasan. "Sabar" kataku. "Ini sudah sabar." Jawabnya.  "Sabar itu disimpan di dalam hati." Kataku lagi. "Ini juga sudah disimpan di dalam muka." Jawabnya tak mau kalah. 

4.6.15

Menjadi Anak Yang Baik Sebelum Menjadi Orang Tua Yang Baik

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya awali hidup saya dengan kesyukuran saya yang luar biasa pada Allah swt. Telah dilengkapilah kepada diri saya saudara-saudara yang menemani dan menyayangi saya. Orang tua yang berpuluh tahun merawat saya. Juga dikarunikan anak-anak yang mengajarkan saya ketabahan dan kesyukuran. Sehingga sedikit demi sedikit saya pun mulai belajar tentang ilmu parenting. Baik dari hikmah, pengalaman, maupun tindakan langsung.

Yang pertama, hikmah tentang seorang keluarga dengan ibu dan ayah yang bekerja. Barangkali tak ada yang menginginkan keadaaan semacam itu. Mengingat anak adalah titipan dari Allah, yang tidak sepatutnya dititipkan lagi (baik kepada pengasuh maupun kepada saudara). Seorang wanita yang sibuk bekerja, atau sibuk menuntut ilmu di luar rumah, atau sibuk mengajarkan ilmu di luar rumah hingga waktunya lebih banyak dihabiskan di luar rumah. Tidak akan jauh lebih baik dari seorang wanita yang mampu mengurus rumah tangganya, dicintai suaminya, dan disayangi oleh anak-anaknya.

Kebutuhan anak mungkin tercukupi secara materiil, tetapi tidak tercukupi dalam memorinya mengenai kasih sayang bersama orang tua. Selama ini yang terkenal di masyarakat hanya sebutan anak durhaka, tapi tidak ada sebutan untuk orang tua durhaka. Sebenarnya kedurhakaan orang tua bisa terjadi lebih dulu sebelum anak itu berdurhaka kepada orang tuanya. Pertama ketika anak tidak tidak diberikan nama yang baik, kedua ketika tidak diajarkan ilmu Al-Qur’an, ketiga tidak diberikan kasih sayang.

Sama halnya dengan tiga kewajiban ayah pada anaknya. Pertama menanamkan tauhid, sampai anak mengucap dan menghayati bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan ayah. Kedua, menjauhkan anak dari syirik, yaitu perbuatan menyembah sesuatu kepada selain Allah. Ketiga, mengajarkan untuk tunduk dan patuh kepada syari’at. Teorinya seperti itu, tapi akan sulit ketika menjalaninya langsung. Banyak fenomena ayah gagal, tidak bertanggung jawab terhadap anaknya dan lebih mengikuti nafsu duniawinya. Sudahkah para ayah mempertanyakan kepada dirinya apakah ia sudah bertanggung jawab kepada anaknya.

Ketika dua orang memutuskan untuk menikah. Secara otomatis, mereka juga harus mampu bertanggung jawab terhadap pilihannya. Bertanggung jawab untuk menjalani syari’at pernikahan dan bertanggung jawab terhadap amanah Allah yang telah dianugerahkan kelak kepadanya. Memang tidak ada yang salah dalam mengejar cita-cita. Yang salah adalah melupakan bahwa orang tua juga semakin renta dan menua. Tidak ada yang salah dalam mencari rizki. Yang salah adalah melupakan caranya mencari rizki dengan cara yang diridhoi Allah swt.


Kedua, hikmah tentang seorang ibu yang merawat anaknya sendiri dan ayah yang menafkahi tanpa melupakan kecukupan untuk anak dan istrinya. Ibu yang bekerja akan lebih tidak bisa fokus dalam mengurus rumah tangga dan anaknya. Setengah pikirannya masih lelah karena pekerjaan di luar rumah. Hingga tidak mempersiapkan hal-hal yang benar dibutuhkan oleh anak. Yaitu masa keemasan (usia 0-2 tahun) yang sepatutnya diisi dengan edukasi. Mempersiapkan anak untuk hidup di masa yang akan datang, mengajak anak untuk berbicara, menceritakan segala sesuatu yang dialami atau dirasakannya.

Ibu yang fokus merawat anaknya akan lebih mudah membentuk anaknya sesuai dengan ketentuan syari’at. Anak pun tidak akan gampang rewel dan membangkang. Kasih sayangnya tercurah sepenuhnya untuk anak sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap Allah. Berbeda dengan seorang ibu yang menitipkan anak kepada pengasuh. Anak cenderung lebih dekat kepada pengasuh daripada ibunya sendiri. Pengasuh pun belum jelas diketahui apakah mempunyai edukasi unuk mengurus anak atau tidak. Bukan hanya soal lihai memandikan, memberi makan atau mengajaknya tidur tepat waktu. Soal itu mungkin sudah tidak perlu diragukan lagi. Tapi sudahkah pengasuh benar benar mengetahui bagaimana cara membentuk perilaku anak yang berbudi luhur dan memberikan pondasi agama sejak dini.

Barangkali itulah yang bisa saya tulis dan saya coba pahami sedikit demi sedikit. Berbagi hikmah dan pengalaman tanpa bermaksud menggurui atau mencari cela dalam hidup orang lain. Ada kalanya kita perlu saling membuka diri, untuk mengoreksi kekurangan diri dan menerima masukan yang baik. Saya hanya teringat kisah mengenai Uwais Al- Qorni yang dikenal dan dikagumi oleh penduduk langit tapi jarang ada penduduk dunia yang mengenal dirinya. Uwais sangat mencintai dan berbakti kepada ibunya. Kemana mana ia menggendong ibunya yang lumpuh dan dengan telaten merawatnya. Sampai ketika keinginannya untuk bertemu Nabi Muhammad saw telah memuncak dan ia pun izin kepada ibunya untuk menemui Rasul ke Madinah, namun sesampainya di Madinah ia tidak bertemu dengan Rasul karena Rasul sedang berperang kala itu.

Uwais pun kembali pulang kepada ibunya. Setelah itu Rasul mengatakan bahwa Uwais adalah penghuni langit walaupun tidak terkenal di bumi. Subhanallah. Sebelum menjadi orang tua, cintailah dulu orang tua kita. Jika cinta mereka sudah kita genggam, maka Allah akan mencintai kita bagaimanapun caranya. Namun kini banyak yang salah mengartikan cintaNya Allah dan menganggap bahwa kasih sayang orang tua hanya berupa benda benda saja, hanya berupa materiil saja. Tanpa menyadari bahwa hidup kita adalah kelindan skenario terbaik yang telah dirancang Allah sedemikian rupa karena kasih sayangNya.

Jika kita sendiri sukar merasa bahwa kita adalah produk terbaik dari orang tua, maka maafkanlah mereka. Jangan membalas dengan mendurhakainya. Orang memang jauh lebih mudah mengingat hal buruk yang dilakukan orang tua ketimbang hal buruk yang sudah kita lakukan kepada orang tua. Ingatlah kebaikannya, berapa tahun sudah ibu setia memasak makanan untuk kita, memandikan, bangun malam di sela sela tidurnya ketika kita menangis karena lapar atau digigit nyamuk. Berapa puluh tahun sudah doa doa yang sudah dipanjatkan mereka untuk kebaikan kita. Tidak ada orang tua yang sempurna, pun tak bisa kita bersikap sempurna.

Ingatlah Umar Bin Khattab yang lahir tanpa edukasi dari orang tua yang muslim. Namun Islam mampu membentuk kepribadiannya menjadi sahabat Rasul yang penuh teladan. Begitupun seharusnya, Islam menjadi panduan yang sempurna untuk hubungan dengan Allah maupun dengan sesama. Rasul pun menyuruh kita menghormati ibu sebanyak tiga kali lalu menghormati ayah sebagai yang keempat, padahal Rasul dilahirkan dalam keadaan yatim piatu, tanpa pernah merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya.  

Tidak akan mendapat rezeki yag baik dari Allah jika seorang anak berhenti mendoakan ibu dan ayahnya. Semoga kita dicatat sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua sehingga bisa dikumpulkan bersama ke dalam JannahNya. Aamiin..


HIJRAH



: Untuk mereka yang mencari dan terombang ambing dalam pencariannya.

Hijrah adalah perpindahan yang bertujuan untuk suatu kebaikan. Pada umumnya hijrah dilakukan dengan perpindahan dari satu tempat menuju ke tempat lain yang lebih baik. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw yang hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rasul bersama sebagian dari pengikutnya hijrah dengan tujuan menyelamatkan diri dari tekanan Kaum Kafir Quraisy. 

Hijrah juga dilakukan karena sebuah alasan yang menyebabkan seseorang tidak menjadi lebih baik. Sehingga ia akhirnya memutuskan untuk berhijrah. Dalam hal itu bisa juga disebut dengan transformasi hati. Transformasi hati adalah perpindahan hati dari hati yang kotor menjadi hati yang bersih. Setidaknya berusaha untuk selalu dan terus menerus membersihkan hati dari kotoran-kotoran nafsu duniawi. Perjalanan untuk transformasi hati bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan dipenuhi kerikil hingga batu batu besar sepanjang perjalanan hijrah ini.

Tidak mudah seseorang memutuskan untuk bisa berhijrah, melainkan dibutuhkan usaha-usaha untuk terus mendekat kepada sesuatu yang lebih baik. Dibutuhkan niat yang kuat untuk membentengi diri dari hal hal yang bisa merusak proses hijrah. Dibutuhkan konsistensi terhadap komitmen yang telah dibuat dalam berhijrah.

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu yang mengubah diri mereka sendiri. Lihatlah, bahwa hidayah tidak datang dengan sendirinya, melainkan dari orang yang mencarinya. Lantas apa yang menyebabkan seseorang bisa mulai melakukan pencarian terhadap hidayah? Banyak hal yang melandasinya, seperti musibah yang tidak diduga-duga, kekosongan hati, peristiwa alam, atau ilmu pengetahuan.

Seseorang yang berpikir tentu akan berbeda dengan seseorang yang tidak berpikir. Seseorang yang mengambil pelajaran dari suatu peristiwa juga tentu berbeda dengan seseorang yang berlalu begitu saja. Seseorang berpikir karena merasakan ada sesuatu yang rasanya tidak pas di hatinya, tidak masuk di akalnya, tidak selaras dengan pikirannya. Maka ia mulai  berpikir tentang kebenaran yang mutlak, kebenaran yang hakiki dan sejati. Seperti syair seorang sufi yang sudah termahsyur, Jalaluddin Rumi:
“Biarlah akalmu melayang, menerawang segala realitas. Tentu pasti ia akan mendarat di altar kebenaran. Biarlah hatimu menyelam, mendalami segala kejadian. Niscaya ia akan berlabuh di dermaga kearifan.”

Orang-orang yang melakukan perjalananan, mencari dari satu tempat ke tempat lain, hinggap dari satu takdir ke takdir yang lain untuk menemukan kebenaran, maka ia pasti akan menemukannya. Meskipun perjalanan yang dilaluinya itu penuh ombak dan badai yang akan mengombang-ambingkan, yang akan membolak-balikkan hatinya. Hari ini bisa saja merasa yakin sepenuhnya, lantas esok menjadi ragu, lusa setengah ragu dan setengah yakin.

Namun tidak patut seseorang yang sudah memutuskan untuk berhijrah dan terbolak balik hatinya lantas bersedih. Sebab memang begitulah dinamika dari skenario Allah yang memberi ujian demi ujian sebagai tanda kasih sayangNya. Allah mencintai hamba-hambanya dengan cara memberikan ujian-ujian kepada hambaNya. Bisa berupa ujian yang nyaman (kesehatan, kekayaan, banyak teman, jabatan), atau bisa berupa ujian ketidaknyamanan (rasa lapar, takut, kehilangan). Apapun itu adalah untuk kebaikan untuk diri kita.

Seseorang yang lemah adalah seseorang yang tidak tahan terhadap ujian. Akan keluar dari mulutnya satu persatu mengenai keluhan, menyalahkan orang lain dan menyalahkan takdir Allah. Orang yang lemah akan lahir di hatinya kekecewaan, kemarahan yang dapat membinasakan pikiran dan jiwanya.
Sementara orang yang kuat adalah orang yang bersabar. Bersabar bukan pula hanya bersabar, melainkan bersabarlah yang banyak. Orang orang yang sabar bukan berarti tak ada penolakan terhadap takdir. Di hatinya bisa saja ada sedikit penolakan, namun ia memutuskan untuk tidak mengekspresikan penolakan itu ke luar dirinya. Orang bersabar adalah ia yang tidak mengeluh dan menyalahkan takdir Allah. Diibaratkan seperti seseorang yang sedang melihat duri, lantas sudah membayangkan bunga mawar.

Jika sudah bersabar yang banyak, maka akan lahir penerimaan. Sebuah sikap keridhaan atas apa yang telah Allah tetapkan terhadap garis garis kehidupan yang manusia jalani.  
Pena – pena penulis takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran takdir telah kering.” potongan hadist Rasulullah dalam riwayat Tirmidzi dan Ahmad tersebut adalah tanda bahwa takdir Allah adalah sebaik-baik takdir.

Maka terimalah segala takdir yang telah Allah rancang sedemikian baiknya. Karena penerimaan terhadap takdir Alah akan menyuburkan rasa syukur, sehingga hari hari yang selama ini terasa kering akan menjadi sejuk dengan rasa keberuntungan akan kasih sayangNya. Beruntunglah orang orang yang dilahirkan dengan keyakinan yang sudah ditanamkan oleh ayah dan kakeknya. Beruntung pula orang – orang yang diberi keinginan untuk mencari dan mengenal hakikat dirinya.

Ketika kamu terlalu lelah mengejar dunia ini, sesekali tanyakan kepada hatimu, untuk apa aku diciptakan? Siapa yang menciptakanku? Apa tujuanku hidup di dunia ini? Bayangkanlah, setiap hari 360 sendi kita bergerak,  setiap hari paru paru kita menarik nafas sebanyak 23.000 kali. Pernahkah kita berpikir siapa yang tengah mengurus dan memelihara kita tanpa pernah luput sedetikpun? Dan di jalan yang bagaimana kita sedekahkan nikmat Allah yang banyak itu?

Mengenal diri bukan hanya sebatas lancar menulis biodata, nama lengkap, tanggal lahir, agama, alamat, dan lain-lain. Mengenal diri lebih dari itu semua. Belajarlah filosofi diri dan temukanlah dirimu yang sebenarnya. Sirami jiwamu dengan nutrisi agama, sinari pikiranmu dengan cahaya ilmu akhirat dan dunia, isi badaniahmu dengan berbagi kepada sesama. Berhijrahlah dengan sesabar sabarnya perasaan dan sekuat-kuatnya keyakinan. Barangsiapa yang mengenal dirinya, tentu pasti kenal juga akan Tuhannya.

Dunia tak lain hanya tempat kita menumpang sebentar. Bagaimana mungkin kita yang menumpang namun tidak mau mengikuti peraturan dari yang punya tumpangan? Bagaimana mungkin kita hidup di bumi Allah namun tidak mau mentaati peraturan Allah? Allah tak pernah kemana-mana, ia selalu ada di hati kita. Kita lah yang selama ini meninggalkannya. Wallahu ‘alam..


Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...