Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2013

Surat Untuk Euis

Jakarta, 30 Agustus 2013


Assalamualaikum, wr wb,

Euis, sahabatku yang baik, aku tulis surat ini dengan terburu-buru sebab jadwal keberangkatanmu yang sedikit aku lupa, namun aku bersyukur masih sempat menuliskannya untukmu, jadi maaf jika isinya agak berantakan.

Ketika membaca pesan singkatmu bahwa kamu akan pamit untuk waktu yang lama, aku seketika jadi teringat sebuah sajak “..hanya seorang pecinta yang tak pernah bersedih, karena tahu ia akan ditinggalkan..” (Cecep Syamsul H). Mungkin bukan hal yang baru bila kamu meninggalkan aku, Is, teringat moment saat ingin ke Pare :D Namun percayalah, anugrah ini adalah sebuah kebahagiaan Allah untukku yang dititipkanNya kepadamu. Maka tularkanlah kebahagianmu, dengan kembali membawa catatan-catatanmu tentang negri itu.

Kamu yang akan menemukan banyak teman baru disana. Ketahuilah, ada banyak jenis teman dalam hidup ini, ada teman yang selalu ingin bicara, ada teman yang selalu ingin mendengarkan, ada teman yang takut untuk ditinggalkan, ada jug…

Dalam Kemarau

(untuk tubuh yang tak pernah goyah oleh peradaban)

Kini kau berjalan di setapak itu, Setapak yang lebih sepi dari jalan ke golgota Juga tak lebih lebar dari lembah kalvari
Saban pagi, kau titipkan usia di jalan itu Barangkali kabut dari mulutmu masih menyimpan peta menuju ladang Barangkali bau bekas sisa pembakaran semalam, akan menuntunmu tabah soal kemarau yang bermusim di tengah kebun
Burung-burung melantunkan kasmaran dan sunyi secara bersamaan Hinggap di ujung-ujung dahan kelopak matamu, Melipat kesedihanmu lalu berkicau begini; “Di perapian matamu, bara menyala dengan gigih Dan kau menunggu surga dalam cawan itu mendidih.”
Kelindan angin mengulum rambutmu jadi isyarat Daun jati, tajam kerikil, bunga kamboja, tanah gersang, adalah surat yang dikirimkan masa lalu ke dalam batang tubuhmu Mengantarkanmu lagi Pada musim-musim tua; musim dimana aku bertahun meninggalkanmu Pada batu-batu tua; yang dikutuk menjadi aku.

(2013)

Yang Tertinggal

pada akhirnya, perempuan itu harus turun dan berhenti sebelum benar sampai di halte tujuan.
merelakan bus itu pergi dan mengangkut penumpang lain..
(2013)

Ketika malam dengan takbir berkumandang

Di bawah langit yang bertabur bintang ini, aku tak lagi ingin dihibur oleh apapun. Derit jangkrik, piuh angin, gesekan daundaun, dan takbir yang bergema dari pengeras suara masjid cukup mampu menggantikan komposisi musik yang paling mengagumkan sekalipun. Segalanya mampu menciptakan sebuah suasana yang tak kalah dari megah kota. Tempat ini, membangunkanku dari tidur panjang, tidur yang sangat panjang. Aku ingin yang pernah redup kembali menyala dan yang terasa lelah kembali bergairah. Malam ini aku ingin terjaga di dadaMu, menyerahkan yang tak pernah kupunya dan melepaskan mimpimimpi liar yang terdekap dalam kerangkeng hawa nafsu. Aku melamun sembari lirih mengumamkan takbir.
Aku ingin mencari apa yang belum juga kutemukan, dalam tanda-tanda yang Allah ciptakan, angin, matahari, manusia, batu. Sejak Jibril turun ke Gua Hira, mewahyukan kepada rasul sebuah ayat pertama: Iqra! Bacalah.. Maka tugas pertama manusia adalah membaca, secara implisit adalah membaca tanda dan jejak kekuasaan Al…