31.8.13

Surat Untuk Euis


Jakarta, 30 Agustus 2013



Assalamualaikum, wr wb,


Euis, sahabatku yang baik, aku tulis surat ini dengan terburu-buru sebab jadwal keberangkatanmu yang sedikit aku lupa, namun aku bersyukur masih sempat menuliskannya untukmu, jadi maaf jika isinya agak berantakan.


Ketika membaca pesan singkatmu bahwa kamu akan pamit untuk waktu yang lama, aku seketika jadi teringat sebuah sajak “..hanya seorang pecinta yang tak pernah bersedih, karena tahu ia akan ditinggalkan..” (Cecep Syamsul H). Mungkin bukan hal yang baru bila kamu meninggalkan aku, Is, teringat moment saat ingin ke Pare :D Namun percayalah, anugrah ini adalah sebuah kebahagiaan Allah untukku yang dititipkanNya kepadamu. Maka tularkanlah kebahagianmu, dengan kembali membawa catatan-catatanmu tentang negri itu.


Kamu yang akan menemukan banyak teman baru disana. Ketahuilah, ada banyak jenis teman dalam hidup ini, ada teman yang selalu ingin bicara, ada teman yang selalu ingin mendengarkan, ada teman yang takut untuk ditinggalkan, ada juga teman yang selalu ingin menerima. Namun mungkin aku bukanlah salah satu dari itu semua. Adakah persahabatan yang lebih manis selain persahabatan yang dilandaskan karena kecintaan kita terhadap Tuhan? Bukankah “kecanduan”nya Jalaluddin Rumi kepada Syamsi atas manifestasinya kepada cahaya Illahi? Barangkali kita tidaklah sanggup seperti itu, tapi aku telah mengambil banyak pelajaran dari seseorang sepertimu, Is. Belajar untuk lebih baik diam daripada bicara buruk, belajar untuk menjadi pendengar yang baik, belajar untuk selalu mendoakan dalam diam, belajar tentang kebersahajaan yang sesungguhnya. 


Jika ada sebuah nasihat, memberilah lebih banyak daripada apa yang kamu terima. Maka apalah yang mampu kuberikan untukmu? Sedangkan kamu begitu sederhana, keinginanmu mungkin tidak punya keinginan. Aku mungkin hanya bisa mendoakanmu sembari tersenyum mengenang bertahuntahun perkenalan kita hingga detik ini. Detik dimana kamu mencapai jalan menuju impianmu. Begitu cepat waktu berlari, sejarah memahat ingatan kita membentuk pola yang sulit dimengerti. Ketika berbincang denganmu, aku sering berdialog dalam hatiku, Is. Dialognya begini  Apakah yang ada di pikiranmu saat sedang diam begitu?” Aku sering penasaran dan selalu ingin masuk ke dalamnya, menelusuri setiap detail isi pikiranmu yang tak terpecahkan itu. Pastilah kamu sedang mengaitkan antara kejadian yang satu dengan yang lain, tentulah dalam setiap kerja otakmu Allah selalu bersamamu.


Euis, menulislah apa yang ingin kamu tulis, di saat lengang maupun sibuk, atau di tiap malam-malam menjelang tidur. Ceritakan padaku tentang negri dengan alam yang kaya akan minyak dan gas itu, tentang perjalananmu mencari jejak-jejak pengetahuan. Pramoedya menulis begitu banyak buku di dalam jeruji penjara, dalam keadaan terkukung di satu tempat yang sempit dan gelap, maka bukankah lebih banyak yang akan ditulis oleh seseorang yang melakukan perjalanan? menembus horison dan cakrawala yang membentang?


Suatu hari, jika bukumu berhasil terbit, aku berjanji akan menjadi pembeli pertama yang membeli bukumu itu. Maka bersemangatlah dalam pengembaraanmu. Jika tujuanmu adalah untuk mendalami bidangmu kini, seperti Ibnu Batuta dengan tujuan awalnya ke Mekkah untuk menunaikan haji namun perjalananya itu membawanya ke dalam 30 tahun yang gemilang. Jadikan tujuanmu ini sebagai batu pertama pijakanmu untuk penjelajahan yang lebih mempesona lagi.


Jika sewaktu-waktu sepi datang ke hatimu, terimalah ia dengan lapang dan jangan suruh ia pergi. Sebab sepilah yang akan memberimu jarak pada kebosanan, hingga kamu mampu bersabar sampai Allah-lah yang menentukan dibatas mana kamu akan bisa kembali belajar. Saat ini, akulah mungkin yang sedang sibuk menata pikiranku bahwa sepeninggalmu, siapa lagi yang akan memberiku nasihat? Ini mungkin hanya ketakutanku saja. Akulah kosong yang mendamba diisi, engkau isi yang selalu ingin berbagi. Maka berangkatlah dengan suka cita, dan kembalilah menjadi seseorang yang berbeda.


Begitulah is, semoga surat ini setidaknya bisa memberikan semangat kepadamu. Konon jika kita menyulutkan semangat, maka kitalah yang akan paling berkobar dalam api semangat itu. Allah SWT selalu bersama kita yang telah menuliskan nasib dan menggariskan takdir. Salawat serta salam aku haturkan kepada Muhammad Saw, pembawa cahaya bagi kita semua. Kamu berdoa untuk yang lain saja, biar aku yang berdoa untukmu, Is..



Wassalamualaikum, wr, wb.

catatan: aku telah sempat menulis surat ini sebelum keberangkatanmu, tapi maaf sebab tak sempat memberikannya langsung padamu. 

29.8.13

Dalam Kemarau


(untuk tubuh yang tak pernah goyah oleh peradaban)


Kini kau berjalan di setapak itu,    
Setapak yang lebih sepi dari jalan ke golgota
Juga tak lebih lebar dari lembah kalvari

Saban pagi, kau titipkan usia di jalan itu
Barangkali kabut dari mulutmu masih menyimpan peta menuju ladang
Barangkali bau bekas sisa pembakaran semalam,
akan menuntunmu tabah soal kemarau yang bermusim di tengah kebun

Burung-burung melantunkan kasmaran dan sunyi secara bersamaan
Hinggap di ujung-ujung dahan kelopak matamu,
Melipat kesedihanmu lalu berkicau begini;
“Di perapian matamu, bara menyala dengan gigih
Dan kau menunggu surga dalam cawan itu mendidih.”

Kelindan angin mengulum rambutmu jadi isyarat
Daun jati, tajam kerikil, bunga kamboja, tanah gersang, adalah surat
yang dikirimkan masa lalu ke dalam batang tubuhmu
Mengantarkanmu lagi
Pada musim-musim tua; musim dimana aku bertahun meninggalkanmu
Pada batu-batu tua; yang dikutuk menjadi aku.


(2013)

Yang Tertinggal

pada akhirnya,
perempuan itu harus turun dan berhenti
sebelum benar sampai di halte tujuan.
merelakan bus itu pergi
dan mengangkut penumpang lain..

(2013)

17.8.13

Ketika malam dengan takbir berkumandang


Di bawah langit yang bertabur bintang ini, aku tak lagi ingin dihibur oleh apapun. Derit jangkrik, piuh angin, gesekan daundaun, dan takbir yang bergema dari pengeras suara masjid cukup mampu menggantikan komposisi musik yang paling mengagumkan sekalipun. Segalanya mampu menciptakan sebuah suasana yang tak kalah dari megah kota. Tempat ini, membangunkanku dari tidur panjang, tidur yang sangat panjang. Aku ingin yang pernah redup kembali menyala dan yang terasa lelah kembali bergairah. Malam ini aku ingin terjaga di dadaMu, menyerahkan yang tak pernah kupunya dan melepaskan mimpimimpi liar yang terdekap dalam kerangkeng hawa nafsu. Aku melamun sembari lirih mengumamkan takbir.

Aku ingin mencari apa yang belum juga kutemukan, dalam tanda-tanda yang Allah ciptakan, angin, matahari, manusia, batu. Sejak Jibril turun ke Gua Hira, mewahyukan kepada rasul sebuah ayat pertama: Iqra! Bacalah.. Maka tugas pertama manusia adalah membaca, secara implisit adalah membaca tanda dan jejak kekuasaan Allah. Membaca seperti Rasul, mencari seperti Ibrahim, bertanya seperti Musa, menganalisis seperti Khawarizmi, mengembara seperti  Ibnu Batuta. Lalu sebagai manusia yang tak berdaya dan  lemah, manusia yang penuh dengan keterbatasan, adakah kita mampu “membaca” seperti itu?

Namun Allah berbicara dengan banyak bahasa, tak ada alasan untuk tak “membacanya”, hal sederhana yang mungkin bisa kita lakukan adalah menggunakan perasaan sebagai sensor untuk menangkap pertanda, melalui syariat sebagai pemandu untuk mengenal Tuhannya. Lalu apakah kita sudah benarbenar mengenal Allah? Pertanyaan itu selalu mengikutiku ketika aku hendak berupaya mengakui keimanan sendiri. Apakah aku sudah benarbenar mengenal Tuhan? Atau hanya berpura-pura kenal? Barangkali kita belum benar serius bertafakkur, melainkan hanya menyusun ulang pikiran-pikiran orang lain tanpa pernah benar-benar mengerti. Sesungguhnya tak ada yang benar kumengerti.

Aku jadi ingin belajar lagi melafadzkan namaMu, tertatih mengejanya huruf demi huruf, hingga menjadi utuh, lengkap terbaca di batinku. Padahal langit sudah berzikir, malam telah mengukir kerajaan dan memahat istana Tuhan dengan megah. Namun mengapa kita masih saja terpejam dan merasa kesepian? Mencari-cari cahaya untuk sekadar merasakan terang, merasakan nyaman. Padahal aku merasa Kau memperhatikanku dari berbagai arah, arah yang tak pernah kuketahui. Adakah aku benar membalas perhatianMu?

Rasionalku terbatas dalam menafsirkan arsyMu yang agung, namun aku percaya, sebagai makhluk, apalah yang bisa kulakukan selain percaya. Tetapi kadangkala aku merasa seperti Santiago dalam Sang Alkemis, memilih menjadi pengembara dari gurun Andalusia hingga ke Mesir, sibuk menduga hartakarun yang pada akhirnya toh tiada, membodohi akidah sendiri. Waktu-waktu telah kulewati dengan abai, aku berpijak pada lelah yang tak kunjung terbayar, terhanyut dalam lautan tanpa dasar. Hingga di malam ini, aku ingin benar-benar terbang menyusuri segala liku naunganMu, menyampaikan tubuhku dalam keyakinan yang tak lagi goyah. Waktu berlarian mengejarku, aku mengejar angan yang berlarian mengejar waktu. Apakah kita sanggup berkejaran dalam sebuah masa yang pasti akan ada batasnya, apakah kita sanggup berkejaran dalam ketidakpastian. Adakah yang lebih pasti daripada kematian?

Kematian tak pernah meminta izin akan kepada siapa ia datang, termasuk para syuhada yang tak tahu apakah kematian akan sampai saat sedang di medan pertempuran. Bukankah Sultan Muhammad Al-Fatih pun tak tahu bahwa kematian akan sampai padanya saat rencana sudah terbentuk dan teluk Bosporrus sudah berhasil disebrang. Namun Tuhan memberikan gejala yang bisa ditangkap oleh akal, buah pikir, maupun perasaan. Seperti yang diwasiatkan kepada generasinya sebelum Sultan itu wafat: Aku sudah diambang kematian. Tapi aku berharap aku tidak kawatir, karena aku meninggalkan seseorang sepertimu.

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Begitukah, Gie? Apakah mati adalah hal yang buruk? Bukankah manusia tak pernah bisa berkehendak, bahkan Nietzsche yang seorang atheis pun berkata untuk terus mencintai takdir, takdir untuk dilahirkan, takdir menjalani usia, mengalami ketuaan dan takdir akan ruh dimatikan. Jasad hanyalah medium untuk menjalankan kehidupan, kita tak bisa memilih akan dilahirkan atau tidak, akan dilahirkan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana. Kematian hanyalah ketiadaan hidup di dunia.

Yang pernah lahir pasti akan mati..

Adakah yang sudah kita persiapkan untuk menyambut tamu agung tersebut jika kelak ia datang? Mungkin tak ada. Maka naiflah, aku memang mengaku mencintai Allah beserta rasulNya. Tapi apakah cinta itu sebenarnya..

Dari kejauhan, takbir masih berkumandang. Subuh masih jauh, ingin kubaringkan tubuh pada rumput yang membentang, membiarkan bintang-bintang berjatuhan ke mataku, memecahkan embun di dalamnya, menunggu hari esok dan memastikan apakah kita masih beriman atau mungkin sudah melupakan?

2013

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...