Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2013

Balada Bawang Merah

Aku menangis bukan sebab aku bersedih. Melainkan karena tak paham kenapa kau membuatku menangis, apakah karena kulitmu yang tega kukupas atau karena kau memang tak sanggup untuk melepas.

Aku menangis bukan karena tak mengerti kenapa aku menangis, melainkan nasib yang telah menukar kesedihan kita menjadi penawar dalam rasa yang dicerap indera. Engkau memberi perih, aku memberi airmata yang kelak akan jadi gurih.

Ketika kudengar tangis dari tubuhmu yang teriris, engkau menatap juga betapa mataku telah tipis. 
Aku menangis sebab kau yang tak mampu bertanya: bolehkah aku ikut menangis?
2013

saat pertama kali belajar puasa

sahur kita ini dengan menu yang sederhana saja : selembar langit yang diselipkan di lapis roti dan secawan susu pemberian tetangga nikmatilah ini sebagai kenyataan yang tak meredupkan semangatmu untuk merayakan puasa pertama. jika matahari telah berjalan di atas kepalamu, maka bolehlah kau teguk terjun sejuk yang akan menuntaskan dahaga, mengairi tandus terowong pangkal mulutmu. namun alangkah baik jika kau bisa merawat ketabahan dengan detakdetak jam yang kian melambat itu, memapah imanmu yang baru tumbuh hingga sampai kepada maghrib itu, petang itu, yang kau nantikan dengan gigimu yang sebagian kopong, lapar yang tinggal di perutmu dan keroncong nyaring itu menjelma musik pengiring, menyambut tuhan yang terbayang dalam gelas teh hangat dan tiga butir kurma kesukaanmu.
2013

Juni yang Berhujan

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu..
-Sapardi Djoko Damono-


(1)
Hujan yang tabah selalu tahu dan tak pernah bertanya
“Berapakah jarak yang kita punya?” hingga tak berani juga
Mengakui bahwa rindu adalah rahasia yang disimpannya
Kepada pohon dengan sejuta bunga
Yang dilahirkan dari pucuk-pucuk dahan
Tak tahu dimana akan singgah dan
Akan menyentuh apa.


(2)
Juni mengajarkannya untuk setia pada musim 
Sekalipun mendung bergelayut pada awanawan kotor,
Patuh untuk jatuh serta pasrah untuk patah
Jika suatu hari ia tak sanggup untuk beranjak
menjadi hujan yang tetap bijak.


(3)
Hujan membikin doa dari udara yang menguap
Serta air yang telah akar serap
Kalau musim berganti, tebuslah rintik rindu yang tak lelah kusimpan 
Dan tak mampu kuabaikan dengan
perisai yang lebih tajam melebihi runcing hujan,
Yang mampu membelah buih juga merapatkan
Lapisanlapisan tanah yang menyuburkan pohon itu
Hingga ia tetap berbunga.


2013

Aku datang bukan untuk sebagai pesaing

Aku datang bukan untuk sebagai pesaing, Melainkan untuk mengalah dalam perang panjang Tak ada kepak burung ababil atau Batubatu yang mungkin terjungkil Melewati nama serta yang menempel pada parasmu
Namun siapakah pesaing sebenarnya? Seseorang dari sebrang menjegal langkahku Ia berkata, tak ada pertanda bahwa masa depan Akan menerima namaku sebagai pemenang
Ikanikan melakukan percakapan Gelembung dari mulutnya pecah lalu terngiang suarasuara : kau hanyalah usia yang sebentar lagi karam Namun mereka tak benarbenar paham bahwa amunisi adalah perasaan yang berjalan ke depan, Menyelamatkan yang hanyut itu
Segalanya sedikit mematahkan pikiran serta batinku Tapi aku tetap berlari mengikuti arus, hendak mengeluarkanmu Melewati deras yang tak urung reda
Kau tahu, pada muara ada seorang yang lain menjemputmu Tapi tak berniat menanggalkan jubahnya dan Menggendongmu keluar dari penderitaan
Dan di hanyut yang kesekian, aku berteriak padamu yang tengah terengah, mencari sebilah napas dalam riak sungai Pernahkah? Pernah…

Perihal Pro dan Kontra Kontes Miss World

“Perempuan” Oleh: Asmi Norma Wijaya



Sebelum memandang perihal pro dan kontra untuk suatu kasus, dengan kata lain kita berbicara mengenai kesepakatan dan ketidaksepakatan. Namun rasanya tidak bijak jika kita membicarakan itu tanpa sebelumnya memandang segala sesuatu berdasarkan substansi, bukan hanya berdasarkan atas aspek permukaannya saja. Satu hal yang barangkali sering kita lupakan adalah bagaimana kesepakatan dan kebenaran yang kadang bertukar tempat. Kesepakatan dianggap sebagai kebenaran mutlak, sementara kebenaran itu sendiri dilupakan wujudnya.
Jika membicarakan perempuan, yang paling bisa kita kenang di Indonesia adalah RA. Kartini. Seorang pejuang perempuan dari Jepara yang membawa visi dan misi untuk kemajuan perempuan dan kesaamaan kedudukan dalam keluarga juga pendidikan. Kartini tidak diizinkan untuk melanjutkan sekolahnya setelah lulus dari sekolah rendah. Keadaan ini tentulah berbeda dengan keadaan perempuan di zaman sekarang, perempuan sudah bisa melanjutkan pendidikan …

Ia Mencari Namanya Sendiri dalam Daftar Orang Hilang

Pagi beringsut,
Tubuh tanpa selimut berbalut kalut Langit berkabung pada mendung yang murung Menusuk, rusuk-rusuk Ia mengigau, meracau Perihal atmosfir seorang musafir Yang setia berjalan mencari tuhan dan mencari namanya sendiri dalam daftar orangorang hilang Ia masih saja gemetar dalam dosa yang tak bisa ditawar Mimpi memang tak berlari dank ehilangan patut diberi ganti Tapi ia benci kenyataan Bahwa ia masih saja bernyawa dalam keadaan nestapa
2013