28.2.15

Nenekku Sedang Tidur

21 Februari 2015 pukul 06.15, tidak ada lagi denyut pada jantungnya, tidak ada lagi suara yang menghentak-hentak dadanya. Semuanya begitu sunyi, seperti kata Bodhi dalam novel ‘Akar’, tidak ada yang lebih merdu dari suara detak jantung. Dan detik ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merindukan suara detak jantung dari seseorang, detak jantung nenekku.

***
Mbahku Iyem dan Tetangannya Mbah Narni

Aku tahu, sedari kemarin, saat duduk di bangku bus dalam perjalanan menuju kampung, jutaan anak panah penyesalan seperti menyergap punggunggku. Lagu dangdut yang mengalun dari televisi pak supir hanya seperti suara bandul-bandul jam di telingaku yang terus menghitung mundur momen-momen ingatanku.

Setahun lalu saat aku pulang kampong dan pergi ke sawah, membantu mbah memetik kacang panjang yang sudah tua. Lalu berisitirahat di amben kayu beratap jerami di tengah sawah. Mbah memiliki tangan dan kaki kaki yang kuat, aku tahu itu, jauh lebih kuat dariku. Saat mbah melahirkan mama yang premature, waktu usia ke hamilan 7 bulan. Saat itu mama hanya berukuran sebesar botol kecap, mama yang menceritakan padaku. Jaman dulu tak ada kotak inkubasi yang biasa digunakan untuk tindakan bayi-bayi premature. Dulu, entah bagaimana caranya, mbah bisa bertahan dan mempertahankan mamaku.

Bus masih melaju dengan kencangnya. Bibirku mengumamkan lirih doa-doa yang pernah kuhapal saat pelajaran agama di sekolah, atau shalawat-shalawat yang sering kudengar sehabis maghrib dari to’a masjid dekat rumahku. Berharap doa-doa itu akan membangunkan nenekku dari ketidaksadarannya selama beberapa jam belakangan. Berharap dan berharap mbah akan baik-baik saja. Meski aku tahu, mbah tak lagi baik-baik saja semenjak ditemukan jatuh tak sadarkan diri di dapur oleh Mbah Narni -tetangga mbah-kemarin.

Bus terus melaju kencang menembus kabut malam, seperti harapan-harapanku yang tak tergenggam. Pikiranku berlarian antara mbah dan mama, mbah yang tak sadarkan diri mungkin sedang menghadapi puluhan atau bahkan ratusan ‘makhluk asing’ yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Mama dengan kesedihannya yang tertinggal di rumah karena tak bisa ikut mengunjungi mbah, bahkan di saat kritis seperti ini. Sepanjang jalan, hanya gelap dan pohon-pohon yang kulihat dari kaca jendela bus. Hanya gelap dan pohon pohon, tak ada apa-apa lagi.

Aku lalu teringat pesan singkat dari kakakku 2 hari lalu, bahwa ia bermimpi rambutnya dipotong menjadi pendek oleh mama lalu ia menangis sedih sekali. Aku yang tak begitu menyukai mimpi hanya mengacuhkan pesan itu dan tak membalasnya. Dan hari ini saat kukabarkan padanya bahwa mbah kritis, ia langsung kembali membahas mimpinya, bahwa arti dari mimpi yang ia cari di internet adalah akan berpisah dengan orang yang dikasihi (kekasih, orang tua, kakek atau nenek).

Entahlah, semuanya seperti rangkaian peristiwa yang aku tak mengerti. Takdir, akankah Tuhan menjawab doaku dengan mengubah takdir? Atau lantas tidak mengubah doa tetapi menambah keikhlasan dalam hati? Tapi Tuhan, apakah sekarang adalah waktunya?

Aku, Amir, Lek Tuti , lek No, dan Lek mi, malam itu penuh dengan keheningan. Aku tahu, setiap dari pikiran kami pasti sedang memikirkan hal yang sama. Bagaimana keadaan mbah? Adakah kami sempat? Adakah kami sempat? Aku berusaha memecah keheningan dengan menawarkan potongan roti besar, tapi semua menolak. Tak ada yang nafsu makan sejak sore tadi. Perut kami, seperti pikiran kami, hampir kosong.

Pukul 01.40, kami tiba di terminal Wonogiri, dengan badan yang beku. Ya, pendingin di bus kurasa disetel sangat rendah, selain itu cuaca malam Wonogiri benar-benar membuat tubuh kami kaku. Lek no langsung berjalan ke arah pertigaan, kami mengikutinya dari belakang. Rumah sakitnya berada sekitar 100 meter dari terminal dan kami berjalan menuju rumah sakit dengan perasaan yang amat tak karuan.

Setibanya di depan Rumah Sakit, Lek Eem menelpon dan mengabarkan bahwa kata dokter, pembuluh darah mbah telah pecah. Pecahlah juga tangis kami sambil bergegas merangsek masuk ke dalam rumah sakit. Lek Mi terhuyung seakan mau pingsan. Benar, ia lemas dan tak mampu berdiri. Lek tuti dan Lek No lantas langsung masuk ke dalam ruang ICU diikuti aku. Aku dan Lek Tuti membaca doa-doa dengan suara yang terkadang hilang ditelan tangisan. Masih dengan harapan yang sama, doa-doa itu akan dapat membangunkan mbah dari kritisnya.

Detik-detik yang berjalan adalah hitungan tiap tetes tangis dan doa kami, harapan dan kesedihan seperti nafas yang kami hirup dan buang. Beberapa jam terlewati, mbah masih tak sadarkan diri, bahkan detak jantungnya semakin melemah. Setidaknya itu yang dapat kulihat di monitor. Napasnya yang kacau dan keras merupakan senjata biologis yang menyayat perasaan kami.

Harapan kami belum lekas terjawab dan perlahan doa-doa itu pun hendak berganti harapan : doa-doa ini akan memberikan ketenangan padanya. Pukul 06.15 detak jantungnya berhenti, nafasnya habis, garis di monitor sudah berjalan lurus. Mulut kami mengucapkan doa-doa panjang, sepanjang air mata kami.

***
Rasanya tak percaya, kau yang kuat dan nyaris tak pernah sakit kini benar-benar menjemput maut di tengah keheningan. Pernah kau berkata, jika aku meninggal nanti, aku ingin meninggal tanpa menjadi beban. Dan sekarang aku percaya, bahwa kau adalah orang yang benar-benar serius dengan ucapanmu. Kau menepati janji, dan Tuhan merestui doamu. Tak ada tanda-tanda bahwa kau mengalami sakit, kau bahkan masih pergi ke sawah setiap hari, bahkan sehari sebelum kau ditemukan jatuh di dapur. Dan buktinya kini hanya sehari, kau hanya memberikan waktu kepada kami untuk melunaskan pertemuan, untuk benar-benar merawat dan mendoakanmu.

Aku mengamini hadits Nabi saw. bahwa sebaik baik nasihat adalah kematian. Aku menangis entah untuk apa. Bukankah ini kabar bahagia untukmu? perjalanan panjang nan melelahkan dalam hidupmu telah usai, dan kini saatnya kau tertidur.

Untuk kehilangankah aku menangis? Itu sudah pasti, setiap kehilangan membekaskan kepiluan. Dan kuakui, ini kepiluan terbesarku sepanjang 25 tahun aku menapaki bumi ini. Tapi apakah aku benar-benar kehilangan? Bagaimana caranya hingga seseorang dianggap hak milik oleh seseorang yang lain? Bukankah segalanya adalah milik Tuhan? Bahkan bakteri sekecil apapun tak pernah luput dari kuasaNya.

"Mahasuci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu."

Semoga kelak kita berkumpul kembali di surgaNya, Aamiin.


Jakarta, 28 Februari 2015


17.2.15

Kais & Jo

Tibalah aku kini pada hari Minggu, hari kesukaanku, hari kebebasanku, hari penebusanku. Membebaskan diriku dari berbagai macam gangguan kedua keponakanku, Kais dan Jo. Hari penebusan segala kelelahanku, hari kesukaanku melakukan berbagai macam hal-hal yang kuinginkan.

Walaupun aku memang menikmati segala bentuk kedekatanku pada anak-anak, memeluk, mencium, berbincang, tertawa, dan bermain. Menikmati segala kebodohanku sendiri, pura-pura mati ketika Jo mengarahkan pistol mainannya ke arahku. Lalu Jo tertawa puas melihatku mati, Kais membangunkanku, dan aku pun pura-pura hidup lagi. Jo kembali menembakkan pistol mainannya ke arahku, aku berpura-pura mati lagi, Jo tertawa dan Kais membangunkanku hingga aku hidup lagi. Begitu seterusnya dan berulang setidaknya sampai 10 kali. 10 kali tembakan, 10 kali pura-pura mati, dan 10 hidup lagi dan tawa mereka tidak berkurang sedikitpun. Anak-anak memang setia, setia pada cara bahagianya sendiri.

Pernah Kais berkata kasar dan memukul Jo. Jo yang ukuran tubuhnya lebih kecil dan setiap hari suhu tubuhnya selalu tinggi daripada Kais memang terkadang lebih kuutamakan. Jangan sampai ia terluka atau sakit. Aku memarahi dan menyentil bibir Kais. Ia diam, aku diam. Entah jenis diam bagaimana yang ia rasakan padaku, tapi seakan ada bara yang tercekat di tenggorokanku, panas. Kais menatapku, tatapan pasrah, aku harap dia menangis, tapi harapanku tidak terjadi. Kais tak menangis, hanya pasrah. Aku peluk dia dan meminta maaf atas sentilan tadi. Menasehatinya agar tak boleh memukul saudara, kuharap ia mengerti apa yang kukatakan.

Aku memilih untuk menikmati bagaimana cara menahan amarah dan akhirnya hanya bisa tertawa tipis sekaligus miris. Menikmati bagaimana kesetiaan mereka padaku benar-benar teruji, dengan tetap tertawa padaku walaupun aku hilang kendali, memarahi. Seringkali aku malu pada diriku yang tak bisa memiliki keikhlasan seperti Kais dan Jo, bahkan 1 persen pun dari keikhlasan mereka aku tak punya.

Sesekali jika bosan di rumah, aku ajak Jo dan Kais ke lapangan luas bekas rumah-rumah gusuran. Di sore hari banyak anak-anak menarik dan mengulur benang layang-layang, menerbangkannya ke langit. Puluhan layang-layang mewarnai langit. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun tak segan  turut menarik-ulur tali layangan. Aku menunjuk-nunjuk beberapa layangan untuk dilihat mereka. Setelah puas melihat anak-anak bermain layangan, ku ajak mereka pulang lalu makan. Perlu upaya keras untuk membuat mereka akur dalam satu permainan atau dalam satu kebersamaan.

Sering sekali Kais dan Jo memperebutkan mainan, atau makanan, atau apa saja atau siapa saja yang bisa mereka perebutkan, yang bisa jadi alasan untuk pertengkaran mereka. Kadang-kadang pertengkaran mereka terasa lucu tapi lebih sering mengenaskan. Kadang-kadang Jo yang menjadi korban, kadang pula Kais yang menjadi korban. Tapi lebih sering Jo yang kalah, karena mungkin ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Jo juga ompong tidak seperti Kais yang tumbuh dengan gigi rapi dan putih. Deretan giginya sering ia tonjolkan dan dijadikan senjata saat bertengkar. Kadang tangan, kadang leher atau bagian tubuh lain dari Jo yang bisa digigit akan digigit. Aku pun tak jarang dijadikan sasaran gitgitannya.

Suatu hari, aku menunjukkan foto wisudaku pada ibuku, beberapa foto wisuda yang dibawakan temanku Ratih dengan sangat hati-hati, aku pun membawa foto-foto itu ke rumah dengan sangat hati-hati pula. Tapi hari itu Tuhan menguji kesabaranku lagi, Kais melecekkan semua foto-foto wisudaku, patah, dan tak ada lagi foto yang tampak sempurna. Aku hampir menangis, mengingat upayaku dalam kehati-hatianku yang luar biasa itu ambruk sudah. Sesuatu yang panas lagi-lagi mengental di tenggorokanku. Pasrah dan kembali kusimpan foto-foto itu di sebuah berkas file, kutempatkan di pojok rak buku, rasanya aku tak ingin melihat foto-foto itu lagi untuk selamanya. Dan rasanya sudah malas sekali untuk mencetak ulang foto-foto itu.

Seperti juga hari yang lalu, aku membeli sebuah meja kayu berkaki besi dengan gambar kartun Sofia, setelah berminggu-minggu kutahan untuk menimbang-nimbang dengan sangat lama,  apakah aku benar-benar membutuhkan meja itu. Hingga kemarin aku memutuskan untuk benar-benar membelinya, Ya! Kupikir aku benar-benar membutuhkannya untuk menulis. Sebuah meja yang apik, kulipat dan kuletakkan di sudut kamarku. Aku pergi sebentar ke luar beberapa jam untuk menyelesaikan pekerjaanku.

Sekembalinya ke rumah, kudapati meja kayu berkaki besi dan bergambar kartun Sofia itu sudah patah tak berdaya di tempat tidur. Pikiranku langsung berlari kepada Kais dan Jo. Memang tak ada yang melihat dan terbukti mereka pelakunya, tapi menurut dugaanku mereka duduk dan menggelendot di atas meja kayu berkaki besi itu. Aku mengelap wajahku, menahan kekesalanku, lalu menatap mereka, Kais dan Jo, secara bergantian. Dan mengajukan pertanyaan serius kepada mereka “Siapa yang merusakkan meja kayu berkaki besi yang baru kubeli itu?”. Mereka hanya diam melongo menatapku, tatapan yang sama ketika aku memarahinya, tatapan polos yang membuatku selalu merasa bersalah. Tatapan kesetiaan yang seolah menertawakan sifat kekanak-kanakanku.

Anak-anak memang membawaku untuk melupakan duniaku dan masuk ke dalam dunia mereka, dunia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka. Aku bukan orang yang pandai membaca pikiran dan isi hati, tak pula mudah peka dengan kebutuhan mereka. Pikiranku yang menyatakan bahwa aku sudah lebih dewasa dari Jo dan Kais adalah sebuah kesalahan besar. Aku, nyatanya, lebih kanak-kanak dibandingkan mereka. Aku, nyatanya, tak cukup pantas untuk diberi tatapan kesetiaan yang luar biasa dari mata polos mereka.  

---Di suatu siang yang panas di bulan Februari, 2015



7.2.15

Selepas Membaca The Last Words Of Chrisye

..Setangkai anggrek bulan yang hampir gugur layu
Kini segar kembali entah mengapa

Bunga anggrek yang kusayang kini tersenyum berdendang
Matahari kan bersinar lagi..

**

Bait-bait di atas adalah secokol lirik dari salah satu deretan lagu memukau Chrisye yang berjudul anggrek bulan yang dinyanyikan bersama Sophia Latjuba. Suaranya yang tipis dan syahdu selalu berhasil menyentuh dan menyampaikan pesan terdalam sebuah lagu kepada orang-orang yang mendengarnya. Mendadak saya ingin mencari dan mendengarkan lantunan-lantunan indah Chrisye selepas membaca  The Last Word of Chrisye yang ditulis oleh Alberthiene Endah.



Buku yang beberapa bulan sempat saya acuhkan saja di rak dan hanya sesekali saya lihat ini ternyata memiliki segudang pelajaran yang bisa dipetik dari hikmah, getir, dan perjuangan seorang Chrisye. Baik perjuangan dalam karir musikalitasnya mapun perjuangannya melawan paru-parunya yang "rusak". Ya, Chrisye menderita kanker paru-paru stadium 4 di tahun 2005, saat itu usianya berada di usia 56 tahun, usia dimana saat seorang laki-laki sedang menggenggam peranan yang sangat penting sebagai seorang ayah, yaitu menemani keempat anaknya dalam membuat keputusan.

Chrisye yang seorang introvert ini memiliki kenangan masa kecil dan keluarga yang sangat indah. Itulah yang membuat Chrisye seolah tidak bisa menerima kenyataan akan penyakitnya, akan vonis hidupnya yang ia tahu takkan lama lagi. Chrisye tak lagi bisa menjadi ayah yang sempurna seperti ayahnya dulu. Penyakitnya sudah kadung parah, pengobatan hanya berguna untuk membuatnya lebih segar dan lebih baik dalam sisa usianya, bukan untuk memperpanjang masa hidup.

The last words of Chrisye merupakan buku yang ditulis AE dengan mengutarakan segala perasaan campur aduk AE yang berhadapan dengan seorang artis sekaliber Chrisye. Dengan lugas dan metaforanya yang dalam, AE menuntun pembaca untuk ikut merasakan nafas yang dihirup oleh AE saat berhadapan dengan Chrisye. Nafas itu sesekali terasa sesak namun juga mengisi relung-relung batin yang kosong dengan beribu makna.

Dengan plot cerita yang dibuat flashback, AE seolah ingin membuat membaca penasaran bagaimana kisah masa lalunya Chrisye hingga beliau menjadi seorang penyanyi legendaris yang diakui Indonesia. Jujur, tak banyak lagu-lagu maupun perihal Chrisye yang lain yang saya ketahui. Saya menyukai lagu-lagunya tapi tak begitu tau secara dalam juga tak pula ada upaya untuk mencari tahu. Sampai saya menemukan buku ini di toko buku Gramedia Matraman yang disandingkan dengan buku-buku biografi musisi lainnya.

Bukan hanya tentang rasa sakit dari perjuangan melawan kanker, tapi Chrisye juga berupaya membagi apa yang sudah dicapai dan bagaimana cara menggapai impiannya. Dan yang paling penting, mengajak kita untuk mensyukuri hidup sebab betapa berharganya kesempatan dan keleluasan untuk bisa bergerak, seperti yang dituturkan oleh Chrisye.

Di akhir sisa usianya, bahkan Chrisye masih ingin bisa berguna. Walau sisa-sisa energinya mulai redup namun semangatnya masih terang menyala. Chrisye ingin berbagi dengan membuat buku biografi karena realitas di depan adalah bayangan kehidupan yang akan berakhir. Tergugah. Satu kata yang mewakili saat membaca buku ini, baik dalam semangat, rasa syukur, hikmah, dan inspirasi untuk tabah dan berjuang akan sesuatu yang ingin kita capai. (ANW)

2015



Menjadi Istri

Menjadi istri membuatku mengingat banyak hal tentangmu Aku bangun dan memasak untuk di rumah Berdoa semoga masakanku enak atau setidaknya ...