Semenjak matahari surut, semenjak laut mengabarkan
bahwa telah banyak yang luput
Engkau berlari menuju cahaya yang sebentar lagi atau
mungkin telah padam
Tak ada lagi cahaya maupun suara
yang bergumam dalam dada ataupun telinga
Engkau hanya cinta pada mekar mawar
tapi tak cinta pada dahan kering
Engkau hanya ingin pada musim semi
Tapi tak inginkan musim salju yang beku
Jakarta, Maret 2016
28.3.16
25.3.16
Mengakali Amarah
kemarahan adalah serigala yang menggerogoti batinmu
mengoyak ngoyak darahmu, memburai jiwamu
namun kemarahan itu puncaknya bukan pada akhir
bukan pada tengah, kemarahan ada dan tiba pertama kali
pada goncangan yang pertama
kau akan dapatkan kemenangan dan ketenangan
jika kesabaran dalam dirimu mampu meredam,
memfilter, mengakali kemarahan dengan ekspresi yang baik
yang indah dan tenang
namun tak banyak orang yang menyanggupi
untuk serta merta mengalah pada kenyataan
yang bisa jadi tak sesuai dengan semestinya,
tak seperti harapan yang benar
memang ada sesuatu yang bisa saja kita ubah
tentunya ke arah yang lebih baik
dengan cara tidak diam, tidak menerima begitu saja
melainkan bisa melalui argumen argumen logis
dan efektif bahwa semestinya benarnya indahnya jika begini.
-pukul 07.22 saat sudah kembali ke rumah-
-pukul 07.22 saat sudah kembali ke rumah-
14.3.16
Kilau Mimpi
Malam menggelayuti dadaku
Dingin dari lantai lantai rumah sakit menembus kulitku
Aku tak bisa bedakan lagi mana ngilu yang berasal dari cuaca
Mana ngilu yang berasal dari pilu sebenarnya
Hanya saja aku terpukau ada bayang bayang
Yang lekat pada langit langit
Ada cahaya matahari pagi terbit disana
Menyilaukan mimpiku
Cahaya itu menuntunku ke suatu rumah
Di rumah itu aku lihat apa yang belum pernah kulihat
Pun mendengar suara suara yang belum pernah aku dengar
Merasakan hal yang sebelumnya tak pernah aku rasa
Hingga aku berjalan jalan dalam rumah itu
Menyuguhi pandangku dengan sesuatu yang tak biasa saja
Lalu aku tak lagi ingin pulang
Sepilah yang membawaku kesini…
2016
Nokturno
tidur dalam rasa khawatir adalah gelombang keniscayaan bagi tiap insan
sebagaimana mimpi mimpi membawa manusia dalam pelangi dan doa
dalam pembaringan ini, manusia berlomba menjadi bijak,
mengasup hikmah, mencoba mempercayai bahwa takdir akan hening saja
sebagaimana langit akan putih dan bersih saat pagi tiba
esok, doa mungkin sama
mungkin pula akan tak sama
esok, mungkin kita akan sunyi
mungkin pula akan bunyi
esok, mungkin hati akan buta
mungkin pula akan terbuka
kecemasan menuntun pada harapan
harapan bermuara pada keikhlasan
untuk menerima apa yang akan tiba
dan apa yang akan tiada.....
Jakarta, Maret 2016
sebagaimana mimpi mimpi membawa manusia dalam pelangi dan doa
dalam pembaringan ini, manusia berlomba menjadi bijak,
mengasup hikmah, mencoba mempercayai bahwa takdir akan hening saja
sebagaimana langit akan putih dan bersih saat pagi tiba
esok, doa mungkin sama
mungkin pula akan tak sama
esok, mungkin kita akan sunyi
mungkin pula akan bunyi
esok, mungkin hati akan buta
mungkin pula akan terbuka
kecemasan menuntun pada harapan
harapan bermuara pada keikhlasan
untuk menerima apa yang akan tiba
dan apa yang akan tiada.....
Jakarta, Maret 2016
Subscribe to:
Posts (Atom)