Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2016

Mendekati Hidup

Semenjak matahari surut, semenjak laut mengabarkan
bahwa telah banyak yang luput

Engkau berlari menuju cahaya yang sebentar lagi atau
mungkin telah padam

Tak ada lagi cahaya maupun suara
yang bergumam dalam dada ataupun telinga

Engkau hanya cinta pada mekar mawar
tapi tak cinta pada dahan kering

Engkau hanya ingin pada musim semi
Tapi tak inginkan musim salju yang beku


Jakarta, Maret 2016

Mengakali Amarah

kemarahan adalah serigala yang menggerogoti batinmu
mengoyak ngoyak darahmu, memburai jiwamu namun kemarahan itu puncaknya bukan pada akhir bukan pada tengah, kemarahan ada dan tiba pertama kali pada goncangan yang pertama
kau akan dapatkan kemenangan dan ketenangan jika kesabaran dalam dirimu mampu meredam, memfilter, mengakali kemarahan dengan ekspresi yang baik yang indah dan tenang
namun tak banyak orang yang menyanggupi untuk serta merta mengalah pada kenyataan yang bisa jadi tak sesuai dengan semestinya, tak seperti harapan yang benar
memang ada sesuatu yang bisa saja kita ubah  tentunya ke arah yang lebih baik dengan cara tidak diam, tidak menerima begitu saja melainkan bisa melalui argumen argumen logis  dan efektif bahwa semestinya benarnya indahnya jika begini.


-pukul 07.22 saat sudah kembali ke rumah-


Kilau Mimpi

Malam menggelayuti dadaku Dingin dari lantai lantai rumah sakit menembus kulitku
Aku tak bisa bedakan lagi mana ngilu yang berasal dari cuaca Mana ngilu yang berasal dari pilu sebenarnya Hanya saja aku terpukau ada bayang bayang Yang lekat pada langit langit Ada cahaya matahari pagi terbit disana Menyilaukan mimpiku
Cahaya itu menuntunku ke suatu rumah Di rumah itu aku lihat apa yang belum pernah kulihat Pun mendengar suara suara yang belum pernah aku dengar Merasakan hal yang sebelumnya tak pernah aku rasa
Hingga aku berjalan jalan dalam rumah itu Menyuguhi pandangku dengan sesuatu yang tak biasa saja Lalu aku tak lagi ingin pulang
Sepilah yang membawaku kesini…

2016

Nokturno

tidur dalam rasa khawatir adalah gelombang keniscayaan bagi tiap insan
sebagaimana mimpi mimpi membawa manusia dalam pelangi dan doa
dalam pembaringan ini, manusia berlomba menjadi bijak,
mengasup hikmah, mencoba mempercayai bahwa takdir akan hening saja
sebagaimana langit akan putih dan bersih saat pagi tiba

esok, doa mungkin sama
mungkin pula akan tak sama

esok, mungkin kita akan sunyi
mungkin pula akan bunyi

esok, mungkin hati akan buta
mungkin pula akan terbuka

kecemasan menuntun pada harapan
harapan bermuara pada keikhlasan
untuk menerima apa yang akan tiba
dan apa yang akan tiada.....

Jakarta, Maret 2016