Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2012

Di Penghujung Januari

Ada yang kelewat sakit untuk kumuntahkan pada pita suara yang tak mengerti apa-apa Ada yang kelewat pedih untuk kutuliskan Dengan tangan yang begitu sungkan
Aku tahu barangkali di penghujung musim ini segalanya akan selesai seiring jatuhnya bulir hujan yang terakhir Pernah juga ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa hujan berasal dari air mata penyair Namun penyair mana yang rela menjadi penyedih terus-menerus
Hingga di penghujung Januari, hujan terus jatuh Kesedihan terus luluh pada mata yang rela berjaga sepanjang usia, Mata itu, mata penyair itu
Kelak di Januari berikutnya, Semoga penyair itu, penyair yang bersedih itu Tak lagi punya kecemasan di pelupuk matanya Dan segala takdir yang nyinyir serta nasib yang panik Telah membaik sesuai praduga
Hujan mungkin tak usah lagi khawatir tentang bagaimana ia akan dijatuhkan Secara sembrono atau hatihati Secara seluruh atau separuhseparuh Sebab bumi telah rela memeluknya dengan kehangatan yang lebih tinggi kadarnya dari semula
Kemudian muncullah semacam …

Rambutan

Sebelum berangkat ke kampus Kusempatkan menulis puisi barang sebaris dua baris Sebab aku taktahan Seperti menelan biji rambutan Yang tertohok di tenggorokan Aku akan menulis puisi mungkin untuk rindu Yang taktahu diri memakan segala waktu Segala ruang di hatiku Ah, apa aku terlihat picisan? Bukan, bukan itu yang kumau Aku mau biji rambutan ini segera keluar Dari tenggorokanku Mungkin akan menggelinding entah kemana Mungkin ke matamu Atau ke sekolan Biarlah, nanti kalau di perjalanan Dan kutemukan pohon rambutan Akan kukembalikan lagi ke asalnya Tempat rambutan tanpa biji Hanya daging dan kulitnya yang merah Ranum dan matang Yang kutemukan di dahan tak berdaun Di dekat kampusku, di sekat mataku Bersama itu kudengar waktu menangis juga Ia mengaku telah kehilangan detiknya, Seperti rambutan, kehilangan bijinya
Januari 2012

Cintaku Sudah Basi

Cintaku sudah basi Janganlah kau cicipi Lagipula di piring tinggal duri Tinggal luka yang membasi
Sendok dan garpu mengarat Baik stainlees, alumunium atau tembaga Tak ada guna
Saus dan kecap berceceran Menyeka reka sisa-sisa Cuma membikin jejak Tak beraturan pada cinta Yang terlampau lama
Sudah kubilang, cintaku cinta basi Telah habis kadaluwarsa Tertanggal setahun atau sewindu lalu Tak ada yang tahu Sebab aku pun tak tahu Sebab aku tak pernah mencerna Cintaku yang termamat masam Ah,  tahu apa aku tentang cinta? Toh aku tak juga tahu Bumbu yang pantas Untuk sekadar  penyedap seduh rasa
(Buat apa?) Toh cintaku sudah teramat basi Teramat pasi

Januari 2012

Perjalanan Menuju Rumah

Gelak bus kota tak lagi ada di kota ini Semakin miris saja wahai kau yang yang kutemukan di kaki-kaki jembatan  
Derap sepatu, runcing hujan, dan bau pendingin,  memaksaku untuk mengingat lagi tentang senyapnya keresahanku yang menjauh darimu
Aku hapal betul bagaimana suara rerayap di halte yang mengerubung redup nyala lampu,  sayup nyala kalbu
Mari kita tertawakan apa saja yang membikin sakit! Karat udara, sayapku yang tak juga tumbuh, kudis para pengemis,  atau irama kopi dangdut dari kotak musik para bebanci di bawah lampu merah,  kemudian Kau rasakan keresahanku jugakah? Atau segala ini tak ada di kotamu?
Barangkali nanti akan kuceritakan lagi bagaimana seseorang menjadi pesakitan, tentang sembilan nyawa yang ia hisap melalui lambung angan kacaunya
Aku menangis bukan lantaran tak ada lagi kebahagiaan, bukan lantaran tak ada lagi yang bikin senang
Namun kecewa ini? Siapa yang bisa sembuhkan? Aku terlantar di perjalanan, tersesat menuju rumah yang lama kukenal.

2012

Handphone

aku meletakkan handphone di dada menunggunya bergetar menunggu kau memanggil namaku, menggetarkan dadaku
2012

saya melihat semua orang kesepian

- the beatles, eleanor rigby -
saya melihat semua orang kesepian, saya rasa itulah pesan teramat dalam yang ingin disampaikan oleh Lennon dan Mc Cartney. namun sebenarnya, mereka tidak hanya ingin mengatakan itu. ada sebuah pertanyaan yang begitu bergejolak datang begitu saja, yaitu "darimana mereka datang?", "darimana datangnya orang-orang kesepian itu?", dan "kenapa seseorang bisa kesepian?". ini lagu yang sudah teramat lampau, namun menjadi cermin pada saat sekarang. seseorang kini rentan menjadi apatis, dan yang paling dianggap utama adalah kondisi dirinya sendiri, sedangkan kepada sesama mereka kurang peduli bahkan lebih cenderung bersaing, melupakan keluarga, teman, dan menganggap setiap yang berbeda adalah musuh. sementara kepedulian terhadap sesama adalah bentuk ekspresi dari hubungan kita terhadap Tuhan. maka jalinlah hubungan baik kepada Tuhan sebagai modal awal hubungan terhadap sesama, cintailah sesama, bahkan kepada makhluk gila sekalipun, ji…

surat untuk nenek

..kepada perempuan tua yang jauh disana

assalamualaikum wr wb

nenek apa kabar? semoga selalu saja baik dan pengingat
aku mungkin punya banyak permintaan padamu, kau tidak harus memenuhi semua, tapi cukuplah salah satu

permintaan yang pertama, ingatlah selalu akan cara berdoa sebagaimana jarak yang tetap menjaga ingatan Tuhan kepada kita, sebab Tuhan juga lah yang akan mempertemukan kita di waktu dan tempat yang tak bisa kita duga

permintaan kedua, jaga kesehatanmu seperti kau menjaga api di tungku dapur yang tak pernah sembarang padam, jaga nyawa di nyala dadamu itu, kepung ia dari giring angin yang senantiasa membuatmu ringkih

permintaan ketiga, jaga ingatanmu dari kepikunan yang menderu-deru, agar ketika aku kembali kau tidak akan bertanya siapa aku. akulah yang begitu mungkin kau rindu, dan kau yang mungkin tak sengaja lupa padaku. aku bersedia menukar ingatanku padamu, agar segalanya tetap berjalan sesuai rencana

permintaan keempat, tidurlah lebih cepat dan jangan terlalu larut, sebab…

Belaka

aku menemukan banyak kata 'belaka' dalam buku puisinya, selain itu semenjana dan leher menjadi sarapan yang terkepung pada setangkup kata-katanya
sungguh aku mungkin tak tahu bagaimana ia mencipta kata sebagai mimpi buruk dan ironi secara bersamaan. hujan, salju, serta kemarau kuduga menjadi pendukung dan pelindung bagaimana sebuah sajak dilahirkannya.
seperti dalam salah satu sajaknya yang berjudul 'belaka',  "..dengan sederhana aku berupaya mencintaimu, seperti tirai hujan Oktober yang rajin membungkus pohon mangga di dekat jendela kamarku. maafkan aku, aku belum mencintaimu, seperti kaki-kaki hujan yang malas menancapkan diri ke halaman sebuah toko cindera mata di kemang.."
diciptakannyalah sebuah kenyataan baru bahwa hujan pun memiliki semacam tirai yang turun membasahi bebuahan dan pepohonan di dekat jendela sebuah kamar. karena tak ada satupun penghalang yang membuat hujan tak rela jatuh ke dedahan, pepohon di bawah langitNya. namun untuk mencintai rasanya…

ode buat cicak, nyamuk, dan Nina

ada yang diamdiam bergerak
merayap dari dinding satu ke dinding yang lainnya
seekor cicak lapar dan pasrah


ada juga yang terang-terangan melempar rayuan
seekor nyamuk gemuk dan bahenol, mungkin kekenyangan 
menghisap Nina yang ingin bobo


nyamuk kembung, cicang bingung
tapi lidah cicak teramat panjangnya
sekali saja hap! sudahlah terjerembab


cicak kenyang, nyamuk tewas
Nina bisa bobo sekarang


2012

tentang macet di kotaku

malam ini, jakarta nampak seperti secangkir kopi panas tanpa gula
ada yang berdesir di sana, membicarakan tentang kepahitan-kepahitan bahwa mungkin bisa saja aku melakukan banyak kesalahan
lupa menakar gula atau terlalu banyak menuang air panas


ada juga yang berdiam hening seperti riak ampas kopi 
di dasar gelasmu, bersabar menunggu turun ke permukaan
agar tak ada getir yang sesekali mungkin akan terhisap

rasa-rasanya kemarin aku mengalami juga hal seperti ini
kemarin dan kemarinnya lagi, bahkan jauh sebelum hari ini
aku menunggu juga waktu-waktu 
dimana segalanya akan sampai, akan terasa dekat ke mataku 
ke jantungmu tempat beristirahat


aku melihat jarum jam di tanganku berjalan mundur
dan tak juga kurasakan (lagi) detak pada jam tanganmu


sementara hujan terus bersemayam di dalam dada
dan kuharap kau seseorang yang pintar menjaga rahasia:
(bahwa waktu telah lebih dulu sakaratul daripada nyawaku, nyawamu, 
dan nyawa kau yang melihat ke arahku dan kearahmu)




jakarta, 2012

hari ini, ada yang terus berjaga di dalam dada

: Achi Widjaja & Rani Mokhza
kau tahu, hari ini.. ada yang terus berjaga di dalam dada, seperti sebuah entah yang kita sepakat menamainya cinta ada juga yang terus bergetar menjelang nanti kau lingkarkan janjimu di jariku dan nanti kupakaikan juga janjiku di jarimu agar kau dan aku menjadi sebuah kita menamai hari depan dengan nama-nama yang kita suka
kita tak pernah tahu nasib akan bilang apa seperti aku yang tak pernah tahu bagaimana cintaku akan berhenti padamu mungkin selamanya  atau lebih lama dari selamanya
maka berjagalah dengan doa 
yang tak pernah putus aminnya
"semoga cinta kita panjang umur.."


2012

nanti kalau kita jadi tua

nanti kalau kita jadi tua, kau jangan lupakan namaku, apalagi wajahku, apalagi puisiku nanti kalau aku jadi tua, aku juga tak akan lupa bagaimana wajahmu, apalagi suaramu
nanti kalau kita sama-sama tua, apakah kau masih mau berandai-andai denganku? mengangankan ini itu, membicarkan peristiwa-peristiwa remeh di hari minggu supaya kelak tiada kita kesepian, mengangon kambing, sapi-sapi memberi mereka nama yang lucu, merawat kembang menges, pohon perdu dan angin pagi dalam setangkap vas bunga di meja kita yang lusuh warna catnya
nanti kalau kita jadi tua, kau jangan lupakan wajahku, sekalipun tak pernah juga melihatku

2012