31.1.12

Di Penghujung Januari

Ada yang kelewat sakit untuk kumuntahkan
pada pita suara yang tak mengerti apa-apa
Ada yang kelewat pedih untuk kutuliskan
Dengan tangan yang begitu sungkan

Aku tahu barangkali di penghujung musim ini
segalanya akan selesai seiring jatuhnya bulir hujan yang terakhir
Pernah juga ada seseorang yang mengatakan padaku
bahwa hujan berasal dari air mata penyair
Namun penyair mana yang rela menjadi penyedih terus-menerus

Hingga di penghujung Januari, hujan terus jatuh
Kesedihan terus luluh pada mata yang rela berjaga sepanjang usia,
Mata itu, mata penyair itu

Kelak di Januari berikutnya,
Semoga penyair itu, penyair yang bersedih itu
Tak lagi punya kecemasan di pelupuk matanya
Dan segala takdir yang nyinyir serta nasib yang panik
Telah membaik sesuai praduga

Hujan mungkin tak usah lagi khawatir tentang
bagaimana ia akan dijatuhkan
Secara sembrono atau hatihati
Secara seluruh atau separuhseparuh
Sebab bumi telah rela memeluknya dengan
kehangatan yang lebih tinggi kadarnya dari semula

Kemudian muncullah semacam kepercayaan,
rasa percaya yang mungkin disengaja
Bahwa pada musim berikutnya waktu akan bersemi
Pada sejuta gladiola di luar jendela
Cuaca akan menguning, senja akan oranye
Seperti warna bola mata ketika jatuh cinta

Dan penyair punya seribu satu rencana untuk berlibur
ke awan atau barangkali ke langit lapisan kedelapan
Disana, seperti yang aku dan kau, juga seperti yang
hujan dan penyair tahu;
Liburan barangkali hanya upaya
Untuk merencanakan kesedihan berikutnya,
dengan airmata yang tak kalah basahnya
dan tak kalah banyak jatah jatuhnya


/Januari 2012/

24.1.12

Rambutan

Sebelum berangkat ke kampus
Kusempatkan menulis puisi barang sebaris dua baris
Sebab aku taktahan
Seperti menelan biji rambutan
Yang tertohok di tenggorokan
Aku akan menulis puisi mungkin untuk rindu
Yang taktahu diri memakan segala waktu
Segala ruang di hatiku
Ah, apa aku terlihat picisan?
Bukan, bukan itu yang kumau
Aku mau biji rambutan ini segera keluar
Dari tenggorokanku
Mungkin akan menggelinding entah kemana
Mungkin ke matamu
Atau ke sekolan
Biarlah, nanti kalau di perjalanan
Dan kutemukan pohon rambutan
Akan kukembalikan lagi ke asalnya
Tempat rambutan tanpa biji
Hanya daging dan kulitnya yang merah
Ranum dan matang
Yang kutemukan di dahan tak berdaun
Di dekat kampusku, di sekat mataku
Bersama itu kudengar waktu menangis juga
Ia mengaku telah kehilangan detiknya,
Seperti rambutan, kehilangan bijinya

Januari 2012

Cintaku Sudah Basi

Cintaku sudah basi
Janganlah kau cicipi
Lagipula di piring tinggal duri
Tinggal luka yang membasi

Sendok dan garpu mengarat
Baik stainlees, alumunium atau tembaga
Tak ada guna

Saus dan kecap berceceran
Menyeka reka sisa-sisa
Cuma membikin jejak
Tak beraturan pada cinta
Yang terlampau lama

Sudah kubilang, cintaku cinta basi
Telah habis kadaluwarsa
Tertanggal setahun atau sewindu lalu
Tak ada yang tahu
Sebab aku pun tak tahu
Sebab aku tak pernah mencerna
Cintaku yang termamat masam
Ah,  tahu apa aku tentang cinta?
Toh aku tak juga tahu
Bumbu yang pantas
Untuk sekadar  penyedap seduh rasa

(Buat apa?)
Toh cintaku sudah teramat basi
Teramat pasi


Januari 2012

23.1.12

Perjalanan Menuju Rumah

Gelak bus kota tak lagi ada di kota ini
Semakin miris saja wahai kau yang yang kutemukan di kaki-kaki jembatan  

Derap sepatu, runcing hujan, dan bau pendingin, 
memaksaku untuk mengingat lagi tentang senyapnya keresahanku yang menjauh darimu

Aku hapal betul bagaimana suara rerayap di halte yang mengerubung redup nyala lampu, 
sayup nyala kalbu

Mari kita tertawakan apa saja yang membikin sakit!
Karat udara, sayapku yang tak juga tumbuh, kudis para pengemis, 
atau irama kopi dangdut dari kotak musik para bebanci di bawah lampu merah, 
kemudian
Kau rasakan keresahanku jugakah?
Atau segala ini tak ada di kotamu?

Barangkali nanti akan kuceritakan lagi bagaimana seseorang
menjadi pesakitan, tentang sembilan nyawa yang ia hisap melalui lambung angan kacaunya

Aku menangis bukan lantaran tak ada lagi kebahagiaan, bukan lantaran
tak ada lagi yang bikin senang

Namun kecewa ini? Siapa yang bisa sembuhkan?
Aku terlantar di perjalanan, tersesat menuju rumah yang lama kukenal.


2012

19.1.12

Handphone

aku meletakkan handphone di dada
menunggunya bergetar
menunggu kau memanggil namaku, menggetarkan dadaku

2012

16.1.12

saya melihat semua orang kesepian



- the beatles, eleanor rigby -

saya melihat semua orang kesepian, saya rasa itulah pesan teramat dalam yang ingin disampaikan oleh Lennon dan Mc Cartney. namun sebenarnya, mereka tidak hanya ingin mengatakan itu. ada sebuah pertanyaan yang begitu bergejolak datang begitu saja, yaitu "darimana mereka datang?", "darimana datangnya orang-orang kesepian itu?", dan "kenapa seseorang bisa kesepian?". ini lagu yang sudah teramat lampau, namun menjadi cermin pada saat sekarang. seseorang kini rentan menjadi apatis, dan yang paling dianggap utama adalah kondisi dirinya sendiri, sedangkan kepada sesama mereka kurang peduli bahkan lebih cenderung bersaing, melupakan keluarga, teman, dan menganggap setiap yang berbeda adalah musuh. sementara kepedulian terhadap sesama adalah bentuk ekspresi dari hubungan kita terhadap Tuhan. maka jalinlah hubungan baik kepada Tuhan sebagai modal awal hubungan terhadap sesama, cintailah sesama, bahkan kepada makhluk gila sekalipun, jika kau sadar bahwa kau sama sebagai ciptaanNya, sebagai manusia. maka tidak akan ada orang-orang yang kesepian.



2012

surat untuk nenek

..kepada perempuan tua yang jauh disana

assalamualaikum wr wb

nenek apa kabar? semoga selalu saja baik dan pengingat
aku mungkin punya banyak permintaan padamu, kau tidak harus memenuhi semua, tapi cukuplah salah satu

permintaan yang pertama, ingatlah selalu akan cara berdoa sebagaimana jarak yang tetap menjaga ingatan Tuhan kepada kita, sebab Tuhan juga lah yang akan mempertemukan kita di waktu dan tempat yang tak bisa kita duga

permintaan kedua, jaga kesehatanmu seperti kau menjaga api di tungku dapur yang tak pernah sembarang padam, jaga nyawa di nyala dadamu itu, kepung ia dari giring angin yang senantiasa membuatmu ringkih

permintaan ketiga, jaga ingatanmu dari kepikunan yang menderu-deru, agar ketika aku kembali kau tidak akan bertanya siapa aku. akulah yang begitu mungkin kau rindu, dan kau yang mungkin tak sengaja lupa padaku. aku bersedia menukar ingatanku padamu, agar segalanya tetap berjalan sesuai rencana

permintaan keempat, tidurlah lebih cepat dan jangan terlalu larut, sebab aku tak mau malam mengetahui terlalu banyak rahasia dari matamu yang terbuka, sedikitlah misterius dan kau boleh berangan-angan lagi di keesokan harinya

permintaan kelima, jangan lagi bersedih tentang masa lalu, tentang seorang jantan yang sangat kau rindukan di tempat yang lain. bertahun sepeninggalnya, semoga kau masih bisa terus berbahagia. aku juga merindukannya seperti kau yang merindukan tangannya ketika membelai pipimu yang keriput

sekian permintaanku, barangkali aku terlalu kurang ajar sebab terlalu banyak meminta padamu
sesungguhnya aku benar-benar tak ingin kau lupakan, maka katakanlah jika pertanda itu akan tiba


wassalamualaikum wr wb

semoga salam ini selalu hangat ketika sampai disana

15.1.12

Belaka




aku menemukan banyak kata 'belaka' dalam buku puisinya, selain itu semenjana dan leher menjadi sarapan yang terkepung pada setangkup kata-katanya

sungguh aku mungkin tak tahu bagaimana ia mencipta kata sebagai mimpi buruk dan ironi secara bersamaan. hujan, salju, serta kemarau kuduga menjadi pendukung dan pelindung bagaimana sebuah sajak dilahirkannya.

seperti dalam salah satu sajaknya yang berjudul 'belaka',  "..dengan sederhana aku berupaya mencintaimu, seperti tirai hujan Oktober yang rajin membungkus pohon mangga di dekat jendela kamarku. maafkan aku, aku belum mencintaimu, seperti kaki-kaki hujan yang malas menancapkan diri ke halaman sebuah toko cindera mata di kemang.."

diciptakannyalah sebuah kenyataan baru bahwa hujan pun memiliki semacam tirai yang turun membasahi bebuahan dan pepohonan di dekat jendela sebuah kamar. karena tak ada satupun penghalang yang membuat hujan tak rela jatuh ke dedahan, pepohon di bawah langitNya. namun untuk mencintai rasanya tidak semudah itu, tidak semudah tirai hujan membungkus pohon mangga, namun ada semacam perasaan semisal atap-atap  di toko daerah Kemang yang tidak mengijinkannya untuk basah dan ditelanjangi oleh kaki-kaki hujan, atau segalanya tidak sesederhana yang dianggap sederhana.

dan di akhir kata-katanya, ada sebuah permintaan maaf, memang demikian seharusnya sajak itu berkahir dengan keminta-maafan dan kerendahhatian agar semuanya tak menjadi 'belaka'.


2012

11.1.12

ode buat cicak, nyamuk, dan Nina

ada yang diamdiam bergerak
merayap dari dinding satu ke dinding yang lainnya
seekor cicak lapar dan pasrah


ada juga yang terang-terangan melempar rayuan
seekor nyamuk gemuk dan bahenol, mungkin kekenyangan 
menghisap Nina yang ingin bobo


nyamuk kembung, cicang bingung
tapi lidah cicak teramat panjangnya
sekali saja hap! sudahlah terjerembab


cicak kenyang, nyamuk tewas
Nina bisa bobo sekarang


2012

Nina tidak jadi bobo

Nina ingin bobo, jangan kau gigit lagi!
tapi nyamuk keras kepala
Nina tidak jadi bobo


2012

10.1.12

tentang macet di kotaku

malam ini, jakarta nampak seperti secangkir kopi panas tanpa gula
ada yang berdesir di sana, membicarakan tentang kepahitan-kepahitan
bahwa mungkin bisa saja aku melakukan banyak kesalahan
lupa menakar gula atau terlalu banyak menuang air panas


ada juga yang berdiam hening seperti riak ampas kopi 
di dasar gelasmu, bersabar menunggu turun ke permukaan
agar tak ada getir yang sesekali mungkin akan terhisap

rasa-rasanya kemarin aku mengalami juga hal seperti ini
kemarin dan kemarinnya lagi, bahkan jauh sebelum hari ini
aku menunggu juga waktu-waktu 
dimana segalanya akan sampai, akan terasa dekat ke mataku 
ke jantungmu tempat beristirahat


aku melihat jarum jam di tanganku berjalan mundur
dan tak juga kurasakan (lagi) detak pada jam tanganmu


sementara hujan terus bersemayam di dalam dada
dan kuharap kau seseorang yang pintar menjaga rahasia:
(bahwa waktu telah lebih dulu sakaratul daripada nyawaku, nyawamu, 
dan nyawa kau yang melihat ke arahku dan kearahmu)




jakarta, 2012

6.1.12

hari ini, ada yang terus berjaga di dalam dada

: Achi Widjaja & Rani Mokhza

kau tahu, hari ini..
ada yang terus berjaga di dalam dada,
seperti sebuah entah yang kita sepakat menamainya cinta
ada juga yang terus bergetar
menjelang nanti kau lingkarkan janjimu di jariku
dan nanti kupakaikan juga janjiku di jarimu
agar kau dan aku menjadi sebuah kita
menamai hari depan dengan nama-nama yang kita suka

kita tak pernah tahu nasib akan bilang apa
seperti aku yang tak pernah tahu
bagaimana cintaku akan berhenti padamu
mungkin selamanya 
atau lebih lama dari selamanya

maka berjagalah dengan doa 
yang tak pernah putus aminnya
"semoga cinta kita panjang umur.."



2012

nanti kalau kita jadi tua

nanti kalau kita jadi tua, kau jangan lupakan namaku, apalagi wajahku, apalagi puisiku
nanti kalau aku jadi tua, aku juga tak akan lupa bagaimana wajahmu, apalagi suaramu

nanti kalau kita sama-sama tua, apakah kau masih mau berandai-andai denganku?
mengangankan ini itu, membicarkan peristiwa-peristiwa remeh di hari minggu
supaya kelak tiada kita kesepian, mengangon kambing, sapi-sapi
memberi mereka nama yang lucu, merawat kembang menges, pohon perdu
dan angin pagi dalam setangkap vas bunga di meja kita yang lusuh warna catnya

nanti kalau kita jadi tua, kau jangan lupakan wajahku, sekalipun tak pernah juga melihatku


2012

CURHAT

Televisi kok semakin sekini semakin berlebihan dan berkekurangan saja. Seperti hari ini, hari Rabu tanggal 23 Mei 2017, pukul 08.0 pagi lew...