Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2013

Ode Buat Bapak

Cuaca mulai demam dan menggigil dengan kerdil. Jalanan basah, kenangan kenangan mencair.
Kepalaku terus menoleh ke ujung jalan itu, Berharap engkau datang dari Balik nyala lampu sepeda motor. Sementara cemas barangkali akan berkemas Jika kau terlambat dari waktuwaktu biasa, Atau senyum lega ketiga kulihat dari kejauhan Rambutmu yang mulai putih menyembul dari balik topi yang usang.
Tak ada kata-kata pengantar saat Kau sampai di beranda penglihatan, Hanya isyarat jas hujan dibuka dan kau tak sedikitpun membiarkan aku basah. Sementara puluhan ribu nafasku hari ini Telah parah oleh dadaku yang gigil sebab Flu yang tak kunjung mustahil.
Tibatiba ingin kudekap usia yang rebah di punggungmu Dengan parau batuk yang tabah di dadaku.
Bapak, aku ingin terus memelukmu dari balik punggung Dan melihat lipatan waktu di wajahmu Dari spion yang cembung.
Sepanjang perjalanan kita tak pernah membicarakan hal-hal yang lebih dalam Dari sekadar bertanya tentang persoalan sehari hari saja. Sebab aku tak pernah paham cara yang…

Dalam Percakapan Paling Sepi

Kemarin aku ziarah ke makam 
kenangan yang pernah kita tanam.

--masih tempat yang sama seperti dahulu,  Lagu lagu dengan irama pelan, cahaya lampu
yang samarsamar menerpa wajahku
dan satu per satu ingatanku terlepas kemudian tandas
Aku mulai merapal detik yang pernah kugenggam  dan engkau yang sempat kusimpan dalam tulisan. 

Betapa tempat itu sebuah jalan pulang Untuk mencatat yang telah lewat.
Di tempat itu, kau pernah melesakkan dadaku, menceritakan sejarah yang tumbuh di kotamu, menawarkan sesuatu yang mendebarkan
sebab oleh waktu dan jarak.
Aku membayangkan lagi bagaimana percakapan bisa lahir dari sepi,

Penunda

Malam telah melarikan diri Beberapa menit yang lalu Jam di kamarku mulai berdetak Menyebutkan namaMu
Tuhan, aku capek melayani keramaian Tubuhku memang sanggup Menerima bising Namun dadaku pangling, Mataku hening
Setiap hendak menujuMu Aku selalu dikalahkan oleh waktu
Maafkan aku yang sibuk Dan membikin asing diriMu
Maafkan aku yang lengah Dan terperangah pada entah
Maafkan aku yang penunda Mengabaikan segala tanda
2013

Aku Ingin Punya Sepeda

Aku ingin punya sepeda Yang pedalnya dari kayu Dan setangnya dari bambu Seperti sepeda pada Masa kecilku dulu
Akan kukayuh udara kotor Yang menyelubung di seputar Roda roda. Kulawan terjal Masa silam dan kubayangkan Para ibu yang mencuci di kali, Mencuci baju anakanak mereka Dengan buih dari sampah Dan limbah pabrik
Berapa kali orang harus mengeluh? Berapa kali pedal harus kukayuh? Sementara kalian diam Merayakan kota yang semakin renta
Berapa kali orang mesti menyesal? Berapa kali mesti kuayunkan pedal? Supaya rantai kehidupan tak putus Dan berkarat, lalu membayangkan Sanak saudara di belakang Mengucapkan selamat jalan
Aku ingin punya sepeda Seperti masa kecilku dulu Berjalan di setapak yang rindang, Yang batang batang pohon itu telah Kalian jadikan rumah rumah, Meja dan bangku
Dunia memang tak mengajari kita Menjadi pahlawan dan Selalu bangun kesiangan
Dunia melahirkan kita menjadi Orang mati yang dihidupkan kembali Dibiarkannya kita mengayuh