24.2.12
televisi tak juga kumatikan
pukul 03.05 dini hari,
mata masih saja membuka
televisi masih menyala
menyuguhkan berita bola
kuperintah lewat cahaya, mengganti sekenanya
acara yang mungkin bisa melenakan mata
seberkas senyum palsu dan omong kosong
bahkan kutonton juga, siapa tahu
bisa membunuh waktu
yang terasa makin sendu
oh televisi,
ajarkan aku tentang hirukpikuk
hingga tubuhku tak mampu mengucap kehampaan
hingga tubuhku menyerupai siaran
yang tayang dua puluh empat jam
televisi tak juga kumatikan
aku takut kesepian mencekikku lagi pelanpelan
seseorang yang jauh disana
mungkin sedang bernyanyi ninabobo
untuk dirinya sendiri
2012
23.2.12
Narasi sebuah halte
Bus yang tak kunjung datang
Cuaca yang tanpa ampun
memukul-mukul jalan dengan gerang
Sementara keletihan
Tak dapat diukur lagi
Seberapa tinggi kadarnya
Barangkali tayangan televisi di halte
Bisa sedikit menghibur
Dengan iklaniklan yang menjual
senyum manis para selebritis
Atau juga sebotol cola
Bisa juga menjadi penawar luka
Bahwa tempat ini adalah tempat
Menunggu yang tiada
Jam rasanya berhenti, dan waktu
Berjalan semakin mundur
Aku tak dapat bedakan lagi
Kemana tujuan yang ingin kudaki:
Keberangkatan atau kepulangan yang telah
Lama menjadi kenangan
-- yang teronggok di
Bawahbawah kursi halte atau terkepit
Diantara ketiak penjaga yang berwajah
Seperti dewa tanpa silsilah
Namun, nyatanya
Kepulangan adalah hal yang yang tabu
Kutemukan banyak wajahku tertempel
Di tembok-tembok, di tiangtiang listrik
Yang telah mengarat dilahap waktu
Di mulut gang, tetanggaku
Seraya gembira menyambutku
Seperti menunggu kelahiran bayi perempuan
Atau menanti turunnya
Malaikat kesebelas dari sorga
Di beranda rumah,
Ibuku berdiri sempoyongan
Kulihat ubannya bertambah
Dan kulitnya menipis
Dengan lunglai dan mulut yang gugup
Ia bertanya lirih “Kau kemana saja setahun ini?”
Kucium tangannya dan menjawab
“Aku tak kemana-mana,
hanya menunggu bus dalam halte.”
Kutengok jam di tangan; jarumnya patah,
Dan angkanya hilang entah kemana
Jakarta, 2012
Jakarta yang Pendiam
Pukul lima sampai pukul delapan
Jakarta terlihat semakin pendiam
Jangan sesekali kau ajak bicara
Atau berlelucon barang sepatah
atau dua patah
Sebab takkan kau temukan Jakarta
yang gemar tertawa, memamerkan gigi,
beramah tamah, atau bahkan
tipis tersenyum
Kau maklumi saja, sebab di kota ini
kebahagiaan sulit dicari
Dan Jakarta telah menyimpan
banyak dosa barangkali
Namun dari atas jalan layang
dapat kau nikmati panorama
seribu kunang-kunang yang menyala
kunang-kunang yang ingin kau ajak terbang
sampai ke puncak sebrang
sembari mendengarkan
lagulagu berirama pelan
Dari atas sini, rumah-rumah berhamburan
kendaraan seperti semut berbaris
dengan membawa sebatang obor
sebagai pemandu atau
sebagai malaikat pembawa jalan pulang
Gedung-gedung tinggi mulai mengantuk
Pintupintu rapat mengatup,
atapatap telah tertidur payah
Sebab esok akan kau temui lagi
Jakarta yang tak kalah pendiamnya
Jakarta, 2012
19.2.12
Nelayan
Kulihat tubuhku mengapung di laut
Seperti fatamorgana—seperti ombak yang telah tiada dilenyapkan batu karang
Seperti kenangan—pemberian yang telah kadaluwarsa diingatkan Tuhan
Hidupku bagai angin
Sendiri bagai angan
Sementara kabar yang kudengar adalah badai yang tertunda
Ada yang mesti diselamatkan
Sebelum pada akhirnya ombak akan menggerus semua menjadi rata
: Wajah pantai, perahu, dan, rumah-rumah pembaringan
Nyatanya adalah harta satu-satunya
Seperti malam yang ingin segera menjadi siang
Seperti teluk yang selalu diasingkan daratan
Seperti laut yang mendamba garam sebagai pasangan
Aku tahu, jala dan sampan
tinggal ini yang kupunya
sebagai nafas terakhir sampai di pelabuhan
Ramalan mengatakan sehabis badai ini aku akan wafat
Cuaca akan hitam terendam malam
Namun aku bertahan seperti Yunus dalam perut paus
Berzikir, seribu kali sebut atau sebanyak maut
Melahirkanku lagi menjadi kabut
2012
Sajak Mandi
Serupa penyair yang bulan madu dengan katakata
Berbekal air yang kukira akan hancur di tubuhku
Seperti luka yang lenyap melindap pada tubuh sajak
Ke pangkal kata, ke lekuk rima
Ke dalam genangan aksara yang kuguyurkan dengan
Beratus spasi juga personifikasi
Namun bukan begitu kiranya,
Bukan mengendap dan hancur
Melainkan terus mengalir ke mata
Ke tapak telapak, bahkan ke ranah berbagai arah
Kebahagiaan sabun mandi
Adalah sebuah pengakuan dosa yang lebih dulu
Menggelincir pada sekat ketiak
Berseluncur di atas lengan yang patuh
Hingga rela jejatuh
Pada pori-pori jemari
baik kanan maupun kiri
Begitu pula pasta gigi
Yang dengan tabah melumat segala yang mengatup
Pada rahang, gusi, serta ruang lain
Tempat sisa yang pernah menjadi asa
Sebelum tenggelam pada tempat penampungan
Yang paling kasar, paling dasar
Kemudian gurat rambut yang sering kujadikan
Hitungan tentang segala nasib baik dan buruk
--Aku pun mengeramasi takdir sebagaimana
Jasad yang dikremasi waktu kemudian menjadi debu
Menjadi abu yang diterbangkan waktu
Pernah aku ingin menamatkan mandi sebagai ritual
--dimana kesedihan akan dilupakan tanpa jejak
Seperti kata yang pernah gagal kujadikan sebait sajak
Setiap yang kubasuh, setiap yang tersentuh
Akan menjelma sebagai puisi yang meluruh
Bersama apa yang kuharap akan
Juga terlepas sebelum sempat mengalir
Ke tempat yang rendah, yang diam
Pada mandi, aku hanya dapat mendengar suara yang benar
Suara yang hanya ingin aku dengar,
Gemericik air dari terowongan tanpa nama
Atau riuh busa yang berbisik dengan seksama
Hari ini aku mandi dengan sukacita
Serupa penyair yang bulan madu dengan katakata
2012
Chairil dan Rokok
Di atas meja belajarku,
ada gambar Chairil sedang merokok (Joko Pinurbo)
Tak sengaja kuhirup asapnya
Sudah kukatakan pada Chairil,
“Berhentilah merokok di bukuku!”
Tapi Chairil diam saja
Dan tetap merokok
Aku batuk-batuk
Kamarku penuh asap sekarang
2012
15.2.12
Dalam Hujan
tapi aku masih punya sekotak hujan
untuk kunikmati jika bibirku terasa kerontang
dan lambungku berbunyi “lekas datang--lekas datang!”
Aku pun bisa merasakan hujan itu beradhesi di lidahku
menyetubuhi segala duka kemudian menawarnya
Barangkali aku juga lupa bahwa diriku telah kelewat petang
untuk menampung mimpi yang terlampau anyir
sambil terus menghibur diri
dengan meminum hujan tanpa henti
mereguknya lalu bersendawa tiap lima menit sekali
Sendawa dengan aromanya yang aneh
Namun aku hapal betul
bahwa itu adalah wangi ketabahan yang
akan selalu timbul pada urat-urat di jemari tanganku
Setidaknya memaksaku untuk tetap tabah
Terkadang jika hujan berhenti,
aku meletakkan semacam kain di sisi jendela
sebagai pertanda bahwa aku berada disini,
--masih di tempat ini
di tempat pemberhentianku yang tak juga punya
alamat ke rumahmu
Jangan berpikir bahwa aku sama sekali tak menunggu
Tetapi ketabahanlah yang membuatku
--untuk tak memaksa
Meski kadang aku putus asa
Jakarta, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)




