31.10.11
aku benci kesunyian yang tak pernah membenci diriku
sajak terakhir di bulan oktober
29.10.11
penghitung nasib buruk
"siapa yang menentukan nasib buruk?" dengusnya lagi
balada penjaga perpustakaan
28.10.11
catatan tidak romantis
malam ini aku mengajakmu pergi nonton film
kukatakan ini gratisan karena aku tahu kita sama-sama
sedang tidak bawa uang
sebenarnya merasa bersalah juga
ketika jalanan macet dan rasanya tidak sampai-sampai
aku takut kamu bosan jadi kuceritakan saja
halhal yang sebenarnya tidak begitu penting
tapi kuharap ini sedikit bisa membunuh waktu
atau sekadar bisa memberimu pandangan
bahwa pergi denganku itu tidak membosankan
dari dalam bis kau terlihat panik karena diluar hujan deras
"tenang, aku bawa payung." kataku pasti seolah tidak khawatir
padahal aku takut juga kalau tiba-tiba payungku rusak lagi di jalan
mungkin segalanya akan menyenangkan
jika langit tidak berubah menjadi penjahat
aku tidak bilang bahwa hujan itu jahat
tapi aku hanya merasa ini bukan waktu yang tepat
kau bilang hari ini kau tidak pakai kaos kaki, dan takut kakimu bau
kalau air hujan masuk ke sepatumu
bicara soal kaki yang bau aku ingat beberapa waktu lalu
aku tertawa saja dalam hati lalu bilang
"ah di dalam dingin kok. kalau bau juga nanti nggak kecium."
terlebih ketika kita temui ada galian di sepanjang jalan
dan kita harus rela menginjak kubangan di trotoar
"tunggu, mi." katamu dari belakang.
aku lupa kalau kita sedang berjalan berdua,
aku lihat baju belakangmu basah
karena aku berjalan terlalu cepat. ah, maaf kataku dalam hati
sampai di tempat nonton film
kita seperti dua orang bodoh yang berkorban
untuk sesuatu yang tidak begitu penting sebenranya
aku tidak tahu film apa yang akan diputar, kau pun juga tidak tau
tapi kita menjalaninya
seolah ini sesuatu yang bisa menghibur atau
mungkin bisa kita tertawai di lain hari
sampai di tempat nonton film,
akhirnya aku tahu bahwa ini film tentang cinta remaja
aku tidak begitu suka tetapi kunikmati saja
sungguh aku tidak begitu megerti jalan ceritanya
tapi kulihat kau khusuk dan sesekali tertawa
lalu aku tanya padamu "apa maksudnya?"
kau menjelaskan dengan seksama
aku malu,
aku seperti orang yang ingin berlari tak punya kaki
betapa inginnya aku menonton film, tapi
begitu dangkal daya tangkapku mengenai sebuah adegan
mungkin aku yang tak pandai menangkap suasana
karena terlalu banyak ketinggalan soal cinta
tibatiba rasanya aku seperti seorang neneknenek
yang sedang nonton film kartun
hanya ikutikutan tertawa jika ada adegan lucu
tapi tidak bisa mengerti sebab apa aku tertawa
mungkin pengalamanmu lebih banyak dariku soal ini
sebab kau mengerti yang tidak kumengerti
seperti layaknya film-film remaja, akhir ceritanya adalah
si lelaki dan si perempuan jadian dengan proses yang begitu panjang
si lelaki mati-matian belajar berenang untuk masuk olimpiade, karena
si perempuan menantangnya
lalu si perempuan sempat frustasi dan menjadi gemuk karena sudah
berbohong tentang perasaannya kepada si lelaki
akhirnya si perempuan kurus lagi karena menyimpan
rasa sakit hati utuk keduakalinya
film yang cukup aneh tapi tidak bisa ditebak jalan ceritanya
mungkin seperti itu juga kita harus melalui hidup ini
tentang tujuan-tujuan yang sederhana
yang harus dilalui dengan berputar-putar terlebih dahulu
melawan kesewenang-wenangan nasib yang
tidak pernah bisa kita duga dan kita bisa apa
kita hanya bisa mecintai takdir
dan jujur terhadap derita apapun
hingga akhirnya kita berpisah lagi
saat aku harus pulang dengan naik bus yang berbeda denganmu
di waktu waktu jauh, yang mungkin kita akan habis
seperti film malam ini
28 oktober 2011
seperti puisi
tuhan yang kau pangku dalam sajadahmu
21.10.11
Sinopsis
Lain kali, pasti akan saya ceritakan lagi tentang 'sesuatu yang unik' dari film Jepang. Saya tak sabar menceritakannya, seperti saya yang juga tak sabar ingin cepat-cepat menonton filmnya.
11.10.11
malam minggu
malamnya hari sabtu
malam sebelum hari minggu
malam yang ditunggu bagi dua sejoli
malam yang dibenci bagi para penyendiri
sesungguhnya aku tak suka menulis puisi ini
puisi malam minggu
malamnya para penunggu
puisinya orang terbelenggu
-- orang orang yang menunggu
menunggu sesuatu dari pualam
yang terasa gagu
yang ramai tapi tak berdamai
aku sesungguhnya
hanya sedang berpurapura menulis
padahal hati sedang sinis
di malam minggu yang miris
2011
10.10.11
puisi untuk seorang ayah yang ditinggal mati anaknya
kenapa hujan?
6.10.11
Pulang
katamu, lahir adalah keberangkatan
lalu apa yang disebut kepulangan?
aku tak ingin menyebutnya
adakah kata lain yang melegakan?
seperti saat-saat pulang ke rumah
membuka kulkas dan memecah es batu
atau langsung menuang air dingin
ke dalam gelas
dan meminumnya seperti
kertas yang buru buru minta ditulis
kering, tak sabar
lalu menyalakan televisi
memencet-mencet tombolnya
mengganti-ganti
padahal aku tahu
tak akan ada berita baik hari ini
atau esok atau esoknya lagi
sepanjang minggu sepanjang bulan sepanjang tahun
sepanjang kita, kau, masih ada di kota
penuh bom bunuh diri
penuh luka penuh dosa penuh lupa
lalu apa yang melegakan
kata-kata itu
tak ada
puisiku pun patah hati
tidak ada harapan untuk disimpan lagi di buku diari
atau diberi semacam bau hujan
yang menenangkan
di balik jendela buram
sebab tebal debu
sebab hujan atau gerimis sekalipun
tak ingin menyentuhnya sesekali
atau berulang kali
lalu untuk apa pulang?
di tempat kepulangan manapun
sesak begitu terasa setia
2011
~ dan lalu, sekitarku tak mungkin lagi meringankan lara.. ~ (Float- Pulang)
4.10.11
Lukaku Ada Lima, Rupa Rupa Sakitnya
Nyanyian Putus Asa
2.10.11
Rindu
Desember - Efek Rumah Kaca
Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Dibalik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda
Aku selalu suka
sehabis hujan dibulan desember,
Di bulan desember
Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka